PRAKTEK SHALAT NABI
Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, ditujukan kepada setiap orang
yang menginginkan shalatnya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ρ ,
sesuai dengan sabdanya :
" ﻲﻠﺻأ ﻲﻧﻮﻤﺘﻳأر ﺎﻤآ اﻮﻠﺻ "
Artinya : “ shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Al-
Bukhari)Rincian praktek shalat nabi ρ yang harus kita ikuti adalah :
1. Menyempurnakan wudhu, yakni berwudhu seperti yangdiperintahkan Allah Ψ dalam firmanNya:
Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, apa bila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan
siku-siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai kedua mata
kaki ..”( Al Maidah : 6)
Rasulullah ρ bersabda :
" رﻮﻬﻃ ﺮﻴﻐﺑ ةﻼﺻ ﻞﺒﻘﺕ ﻻ "
Artinya : “ shalat tidak diterima (tidak sah) bila tanpa bersuci”
2. menghadap ke kiblat ( Ka’bah ) dimanapun berada, dengan seluruh badan, dengan niat dalam hati melakukan shalat yang hendak dikerjakan baik shalat fardhu maupun shalat sunnat.
Niat tidak perlu diucapkan dengan lisan karena hal itu tidak dianjurkan dan tidak pernah dicontahkan nabi ρ, dan para shahabat τ pun tidak pernah melafalkan dengan lisan mereka.
Nabi Muhammad ρ mensunahkan agar ketika hendak shalat kita membuat sutrah (batasan) sebagai tempat shalat, baik ketika ia sebagai imam maupun shalat sendiri.
3. Takbiratul ihram dengan mengucapkan “ Allahu Akbar” dengan menatap ke tempat sujud.
4. mengangkat tangan ketika takbir setinggi pundak atau setinggi telinga.
5. meletakkan kedua tangan di atas dada. Telapak tangan kanan berada di atas telapak tangan kiri. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan
Wail bin Hujr dan Qubaishah bin Halab At Thai dari bapaknya
6. disunnatkan membaca do’a istiftah ( pembukaan ) yaitu :
Artinya : “ ya Allah, jauhkanlah aku dari segala dosa, sebagaimana Engkau
menjauhkan timur dan barat. Ya Allah , bersihkanlah aku dari segala dosa seperti dibersihkannya kain putih dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari segala dosa dengan air, es dan salju.”
Selain do’a di atas, bisa juga membaca do’a :
" َكُﺮْﻴَﻏ َﻪَﻝِإ َﻻَو َكﱡﺪَﺟ ﻰَﻝﺎَﻌَﺕَو َﻚُﻤْﺱا َكَرﺎَﺒَﺕَو َكِﺪْﻤَﺤِﺑَو ﱠﻢﻬﻠﻝا ﻚَﻧﺎَﺤْﺒُﺱ "
Artinya : “ Maha suci Engkau, ya Allah. Aku memuji-Mu dengan pujian-Mu,
Maha berkah asma-Mu, Maha tinggi kebesaran-Mu, dan tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau.”
Kemudian membaca ta’awwudz :
) ﻢﻴﺟﺮﻝا نﺎﻄﻴﺸﻝا ﻦﻡ ﷲﺎﺑ ذﻮﻋأ (
Dan basmalah ) ﻢﻴﺡﺮﻝا ﻦﻤﺡﺮﻝا ﷲا ﻢﺴﺑ ( serta surat Al-Fatihah, karena
Rasulullah ρ telah bersabda :
" بﺎﺘﻜﻝا ﺔﺤﺕﺎﻔﺑ أﺮﻘﻳ ﻢﻝ ﻦﻤﻝ ةﻼﺻ ﻻ "
Artinya : “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca fatihatul Kitab.”
Setelah membaca fatihah, ucapkan “ Aamiin” dengan suara keras dalam shalat jahriah ( shalat yang bacaannya dikeraskan / di suarakan. Setelah itu bacalah salah satu surat dari Al Qur’an yang dihafal.
7. Ruku’ dengan membaca takbir serta mengangkat kedua tangan setinggi pundak atau setinggi telinga. Lalu sejajarkan kepala dengan punggung, dan letakkan kedua tangan di atas kedua lutut, dan renggangkan jari-jari, dan berada pada posisi tuma’ninah (menenangkan badan) dalam ruku’, dan mengucapkan :
ﻢﻴﻈﻌﻝا ﻲّﺑر نﺎﺤﺒﺱ
Artinya: “ Maha suci Allah yang Maha agung .”
Diutamakan ucapan itu diulang-ulang tiga kali atau lebih. Dan disunnatkan juga menambahkan bacaan :
ِﻲﻝ ْﺮِﻔْﻏا ﱠﻢُﻬّﻠ ﻝ ا َكِﺪْﻤَﺤِﺑَو ﺎَﻨﱠﺑَر ﱠﻢﻬﻠ ﻝ ا َﻚﻧﺎﺤْﺒُﺱ
Artinya : “ Maha suci Allah, Robb kami, dan dengan memuji Engkau, ya Allah, ampunilah aku.”
8. mengangkat kepala setelah ruku’ dengan mengangkat kedua tangan setinggi pundak atau telinga, seraya mengucapkan :
" ﻩَﺪِﻤَﺡ ْﻦَﻤِﻝ ُﷲا َﻊِﻤَﺱ "
Artinya : “ Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya.”
Dibaca oleh imam, juga ketika dalam shalat sendirian. Ketika berdiri ucapkan :
" ُءْﻞِﻡَو ِضْرَﻷا ُءْﻞِﻡَو ِتاَﻮَﻤﱠﺴﻝا ُءْﻞِﻡ ِﻪْﻴِﻓ ﺎًآَرﺎَﺒُﻡ ﺎًﺒِّﻴَﻃ اًﺮْﻴِﺜَآ اًﺪْﻤَﺡ ُﺪْﻤَﺤﻝ ا َﻚَﻝَو ﺎَﻨﱠﺑَر
ْﻴَﺑ ﺎَﻡ ُﺪْﻌَﺑ ٍءْﻲَﺵ ْﻦِﻡ َﺖْﺌِﺵ ﺎَﻡ ًءْﻞِﻡَو ﺎَﻤُﻬَﻨ "
Artinya : ya Robb kami, bagi Engkau-lah segala puji dengan pujian yang banyak, yang baik dan diberkati, yang memenuhi langit, bumi, antara langit dan bumi, dan memenuhi apa saja yang Engkau kehendaki.”
Lebih baik lagi apa bila setelah mengucapkan do’a tersebut, membaca :
" ُﺪْﺒَﻌﻝ ا َلﺎَﻗ ﺎَﻡ ﱡﻖَﺡَأ ِﺪْﺠَﻤﻝاَو ِءﺎَﻨﱠﺜﻝا ُﻞْهَأ , ُﺪﺒﻋ َﻚَﻝ ﺎَﻨﱡﻠُآَو , َﻻَو َﺖْﻴَﻄْﻋَأ ﺎَﻤِﻝ َﻊِﻧﺎَﻡ َﻻ ﱠﻢُﻬَﻠﻝا
َﺖْﻌَﻨَﻡ ﺎَﻤِﻝ َﻲِﻄْﻌُﻡ , ﻝا َﻚْﻨِﻡ ﱢﺪﺠﻝ ا َاذ ُﻊَﻔْﻨَﻳ َﻻَو ﱡﺪَﺠ "
Artinya : “ Yang memiliki pujian dan keagungan, Yang berhak menerima apa yang dikatakan hamba-Nya. Kami semua milik-Mu, ya Allah. Tidak ada yang dapat menolak apa yang telah Engkau berikan, tidak ada yang dapat memberikan apa yang telah Engkau tolak; dan tidak ada gunanya bagi Engkau kekayaan dunia.”
Menambah do’a di atas merupakan kebaikan, karena do’a di atas
terdapat dalam beberapa hadits yang shahih.
Ketika berdiri dari ruku’, makmum mengucapkan “ Rabbanaa wa lakal hamdu ….” Dan seterusnya. Baik imam, munfarid ( orang yang shalat sendirian ) dan makmum disunnatkan meletakkan kedua tangan di atas dada seperti ketika berdiri ebelum ruku’. Ini berdasarkan petunjuk dari Rasulullah ρ dari hadits yang diriwayatkan oleh wail bin hujr dan Sahal bin Saad Ra.
9. Sujud dengan mengucapkan takbir serta meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan ( kalau bisa/ mampu). Bila tidak bisa / tidak mampu, maka boleh mendahulukan tangan sebelum lutut. Dan jari-jari kedua kaki dan kedua tangan dihadapkan ke arah kiblat, dan jari-jari tangan dirapatkan. Sujud di atas hendaknya dengan menggunakan anggota sujud yang
tujuh, yakni kening bersama hidung, kedua tangan, kedua lutut, dan jari-jari
kedua kaki, serta mengucapkan :
" ﻰﻠﻋﻷا ﻲّﺑر نﺎﺤﺒﺱ "
Artinya: “ Mahasuci Allah yang Mahatinggi.” ( 3x atau lebih) Disunnatkan lagi membaca :
" ﻲﻝ ﺮﻔﻏا ﻢﻬﻠﻝا كﺪﻤﺤﺑو ﺎﻨّﺑر ﻢﻬﻠﻝا ﻚﻧﺎﺤﺒﺱ "
Artinya: “ Mahasuci Engkau, ya Allah, Robb kami, dengan memuji Engkau, ya Allah, ampunilah aku.”
Disunnatkan pula memperbanyak do’a. Rasulullah ρ bersabda :
" ءﺎﻋﺪﻝا ﻲﻓ اوﺪﻬﺘﺟﺎﻓ دﻮﺠﺴﻝا ﺎﻡأو ،بﺮﻝا ﻪﻴﻓ اﻮﻤﻈﻌﻓ عﻮآﺮﻝا ﺎﻡأ نأ ﻦﻤﻘﻓ
ﻢﻜﻝ بﺎﺠﺘﺴﻳ "
Artinya : “ ketika ruku’ maka agungkanlah ( nama )Robbmu. Dan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a, karena do’a kalian layak untuk dikabulkan.” ( HR. Muslim)
" ءﺎﻋﺪﻝا ﻦﻡ اوﺮﺜآﺄﻓ ﺪﺟﺎﺱ ﻮهو ﻪﺑر ﻦﻡ ﺪﺒﻌﻝا نﻮﻜﻳ ﺎﻡ بﺮﻗأ "
Artinya: “ kondisi dimana seorang hamba paling dekat dengan Robbnya adalah di saat ia sedang sujud, karena itu perbanyaklah do’a.” ( HR. Muslim )
8
Disunnatkan pula berdo’a untuk diri sendiri dan mendoakan umat Islam lainnya untuk kebaikan di dunia dan di akhirat. Ketentuan lainnya adalah merenggangkan kedua lengan dari kedua lambung, tidak merapatkan perut dengan paha, merenggangkan kedua paha dari kedua betis dan mengangkat kedua lengan dari tanah tanah (dasar/ tempat sujud ) . hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah ρ :
" دﻮﺠﺴﻝا ﻲﻓ اﻮﻝﺪﻋا , ﺐﻠﻜﻝا طﺎﺴﺒﻧا ﻪﻴﻋارذ ﻢآﺪﺡأ ﻂﺴﺒﻳ ﻻو "
Artinya : “ tegaklah dalam sujud kalian, jangan ada seseorang dari kalian yang meletakkan kedua lengannya seperti anjing.”
10. mengangkat kepala dari sujud ( bangun dari sujud ) dengan mengucapkan takbir, meletakkan telapak kaki yang kiri dan mendudukinya ,
menegakkan kaki yang kanan, meletakkan kedua tangan di atas kedua paha
atau lutut, dan mengucapkan :
Artinya : “ ya Robb, ampunilah aku ( 3x). ya Allah, ampunilah aku, berikanlan rizki-Mu kepadaku, sehatkanlah aku, tunjukilah aku, dan cukupkanlah segala kekuranganku.
Tuma’nina ( menenangkan badan ) ketika duduk sehingga tulangtulangnya
kembali lagi ke tempat asalnya, seperti I’tidal setelah ruku’ . Nabi Muhammad ρ memanjangkan I’tidal dan antara kedua sujud.
11. Sujud kedua dengan mengucapkan takbir, dan mengerjakan seperti yang dikerjakan pada sujud pertama.
12. Mengangkat kepala dengan mengucapkan takbir; lalu duduk sebentar seperti duduk antara dua sujud, yang ini disebut duduk istirahat. Menurut salah satu pendapat ulama ini merupakan amalan yang disunnatkan. Karena itu apabila ini ditinggalkan tidak apa-apa dan di situ tidak ada dzikir maupun do’a yang harus di ucapkan. Kemudian bangkit ke rokaat yang kedua dengan bersandar pada kedua lutut ( bila kondisi memungkinkan ). Bila tidak mampu, maka boleh bersandar pada alas ( dasar/ tempat sujud ) Lalu membaca surat Al Fatihah, dan selanjutnya membaca salah satu surat dari Al-Qur’an. Baru setelah itu mengerjakan seperti yang dilakukan pada rokaat pertama. Makmum tidak diperkenankan mendahului imam, karena Nabi ρ telahmemperingatkan hal itu kepada umatnya. Hukumnya makruh apabila makmum gerakannya bersamaan dengan imam. Yang disunnatkan adalah semua perbuatan dilakukan setelah imam tanpa menunggu-nunggu dan setelah terhentinya suara imam. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ρ :
Artinya : “ Imam hanya dijadikan untuk diikuti, karenanya janganlah kalian
berbeda dengan imam, apabila imam takbir, maka takbirlah, apabila imam
mengucapkan “ sami’allaahu liman hamidah” maka ucapkanlah : “Rabbanaa wa lakal hamd.” Apabila imam sujud, maka sujudlah ( HR. Al- Bukhari- Muslim)
13. Apa bila shalat terdiri dari dua rekaat, seperti shalat Subuh, shalat Jum’at dan shalat Ied, maka setelah sujud yang kedua, duduk dengan menegakkan kaki yang kanan, dan duduk di atas kaki yang kiri, meletakkan tangan kanan di atas paha kanan, menggenggam semua jari-jari kecuali jari telunjuk yang mengisyaratkan pengesaan Allah Ψ, atau menggenggam jari kelingking dan jari manis saja sedangkan jari tengah beserta ibu jari membentuk lingkaran, lalu mengisyaratkan jari telunjuk, ini juga baik bila di lakukan. Kedua cara ini berdasarkan hadits Nabi ρ. Dan tangan kiri diletakkan di atas paha atau lutut yang kiri juga. Dalam duduk ini kemudian
membaca tasyahud, yaitu:
Artinya : “ segala puja dan puji, shalawat dan kebaikan milik Allah, keselamatan dari Allah, rahmatNya dan keberkahanNya kepadamu wahai Nabi ρ, keselamatan kepada kami dan hamba-hamba Allah yang baik. Aku bersaksi tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusanNya. Ya Allah sampaikan keselamatan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan keselamatan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Mahaagung, berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau
telah memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Terpuji dan Mahaagung. Ya Allah aku memohon perlindunganMu dari siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari fitnah Al Masih Ad- Dajjal.”
Kemudian berdoa apa saja meminta kebaikan di dunia dan akhirat, dan jika mendoakan orang tua atau sesama kaum muslimin, maka tidak apa-apa, baik dilakukan dalam shalat wajib maupun dalam shalat sunnat. Selanjutnya salam ke kanan dan ke kiri, seraya mengucapkan:
14. apabila shalat terdiri dari tiga rakaat, seperti shalat Maghrib, atau empat rakaat, seperti shalat Dhuhur,Ashar dan shalat Isya’. Maka setelah membaca tasyahud dan shalawat kepada Nabi ρ, berdiri lagi dengan bersandar pada lutut, mengangkat kedua tangan setinggi pundak dengan mengucapkan “ Allahu Akbar” dan meletakkan kedua tangan di atas dada, lalu membaca Al Fatihah saja. Apabila dalam rakaat ketiga dan keempat dari shalat Dhuhur sesekali menambah bacaan ayat sesudah Fatihah, maka tidak apa-apa, karena ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abi Sa’id τ. Kemudian melakukan tahiyat rakaat ketiga dari shalat Maghrib dan setelah rakaat keempat dari shalat Dhuhur,Ashar atau Isya’; membaca shalawat kepada Nabi ρ , memohon perlindungan dari siksa neraka Jahannam, siksa kubur, dan fitnah Dajjal, memperbanyak doa sebagaimana pada shalat yang dua rakaat. Pada saat ini duduknya “ tawarruk” , yakni meletakkan kaki kiri di bawah kaki kanan, pantat di atas lantai/ alas dengan menegakkan kaki kanan. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abi Humaid. Setelah itu melakukan salam ke kiri dan ke kanan, seraya mengucapkan :
" ﷲا ﺔﻤﺡرو ﻢﻜﻴﻠﻋ مﻼﺴﻝا ، ﷲا ﺔﻤﺡرو ﻢﻜﻴﻠﻋ مﻼﺴﻝا "
Kemudian beristighfar ( 3x) dan mengucapkan :
Artinya : “ Ya Allah , Engkau Mahasejahtera, dari Engkaulah datangnya
kesejahteraan, Engkau Mahaberkah, wahai yang mempunyai keagungan dan kemuliaan, tiada ilah yang berhak disembah selain Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dia mampu atas segala sesuatu. Ya Allah tidak ada yang mampu menghalangi apa yang Engkau berikan, tidak ada yang mampu memberi sesutu yang Engkau tolak, dan tidak ada gunanya bagi Engkau kekayaan manusia, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Engkau, ya Allah. Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah. Kami tidak menyembah selain Dia. Bagi-Nya kenikmatan, bagi-Nya anugrah, dan bagi-Nya pujian yang baik. Tidak ada Tuhan selain Allah. Kami mengikhlaskan dien ini ( agama ini )
karena-Nya, meskipun orang-orang kafir membenci.”
Kemudian membaca tasbih ( subhanallah) 33x, membaca hamdalah (
Alhamdulillaah ) 33x, dan takbir ( Allahu Akbar ) 33x, dan untuk
kesempurnaan bacalah :
Artinya : “ Tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dia mampu atas segala sesuatu.”
Lalu membaca ayat kursi, surat Al Ikhlash ( qul Huwallahu Ahad ), surat
Al Falaq ( qul A’uudzu bi Rabbil Falaq ) dan surat An Naas ( qul A’uudzu bi
Rabbinnaas ) sehabis shalat.
Disunnatkan mengulangi tiga surat tersebut sebanyak tiga kali setelah shalat Maghrib dan Shubuh. Ini berdasarkan hadits yang shahih. Setelah melakukan shalat Maghrib dan Subuh juga disunnatkan membaca dzikir di
bawah ini sepuluh kali setelah membaca dzikir-dzikir yang telah disebutkan
di atas:
Berdasarkan hadits Nabi tentang hal ini.
Seorang imam, setelah mengucapkan istighfar (3x) dan mengucapkan :
Ia berpaling menghadap makmumnya, kemudian berdzikir ( dzikir seperti dijelaskan di atas). Amalan ini sebagaimana telah ditunjukkan beberapa hadits Nabi ρ , antara lain hadits yang diriwayatkan Aisyah τ dalam shahih Muslim. Dan yang perlu diketahui dzikir hukumnya sunnat bukan wajib. Setiap muslim dan muslimah disunnatkan untuk senantiasa berusaha melaksanakan shalat dua belas rakaat disaat tidak bebergian yaitu empat rakaat sebelum Dhuhur, dua rakaat setelah Dhuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya’ dan dua rakaat sebelum Shubuh, karena Nabi ρ selalu menjaga shalat-shalat sunnat ini. Shalat shalat sunnat ini disebut Rawatib.
Ummi Habibah Ra meriwayatkan bahwa Nabi ρ bersabda :
Artinya : “ barang siapa shalat sunnat 12 rakaat setiap hari, maka akan
disediakan untuknya rumah di surga.” ( HR. Muslim)
Jika tengah bepergian atau dalam perjalanan, Nabi ρ meninggalkan shalat sunnat sebelum dan sesudah Dhuhur, shalat sunnat ba’da Maghrib, dan shalat sunnat ba’da Isya’. Tetapi beliau masih tetap memelihari shalat sunnat sebelum Subuh, dan witir. Oleh kerena itu kita perlu meneladaninya, karena Allah telah berfirman :
Artinya : “ sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan
yang baik bagimu ( yaitu ) bagi orang yang mengharap ( rahmat) Allah dan ( kedatangan ) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” QS Al -Ahzab : 21)
Rasulullah ρ pun telah bersabda :
" ﻲﻠﺻأ ﻲﻧﻮﻤﺘﻳأر ﺎﻤآ اﻮﻠﺻ "
Artinya : “ Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
Allah pemberi taufiq.
Salam sejahtera semoga melimpah kepada Nabi kita, Muhammad bin Abdullah, kepada keluarganya, para shahabatnya, dan para pengikutnya
sampai hari kiamat.
Buku : TUNTUNAN THAHARAH DAN SHALAT
PENULIS : SYEIKH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ
yang menginginkan shalatnya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ρ ,
sesuai dengan sabdanya :
" ﻲﻠﺻأ ﻲﻧﻮﻤﺘﻳأر ﺎﻤآ اﻮﻠﺻ "
Artinya : “ shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Al-
Bukhari)Rincian praktek shalat nabi ρ yang harus kita ikuti adalah :
1. Menyempurnakan wudhu, yakni berwudhu seperti yangdiperintahkan Allah Ψ dalam firmanNya:
Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, apa bila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan
siku-siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai kedua mata
kaki ..”( Al Maidah : 6)
Rasulullah ρ bersabda :
" رﻮﻬﻃ ﺮﻴﻐﺑ ةﻼﺻ ﻞﺒﻘﺕ ﻻ "
Artinya : “ shalat tidak diterima (tidak sah) bila tanpa bersuci”
2. menghadap ke kiblat ( Ka’bah ) dimanapun berada, dengan seluruh badan, dengan niat dalam hati melakukan shalat yang hendak dikerjakan baik shalat fardhu maupun shalat sunnat.
Niat tidak perlu diucapkan dengan lisan karena hal itu tidak dianjurkan dan tidak pernah dicontahkan nabi ρ, dan para shahabat τ pun tidak pernah melafalkan dengan lisan mereka.
Nabi Muhammad ρ mensunahkan agar ketika hendak shalat kita membuat sutrah (batasan) sebagai tempat shalat, baik ketika ia sebagai imam maupun shalat sendiri.
3. Takbiratul ihram dengan mengucapkan “ Allahu Akbar” dengan menatap ke tempat sujud.
4. mengangkat tangan ketika takbir setinggi pundak atau setinggi telinga.
5. meletakkan kedua tangan di atas dada. Telapak tangan kanan berada di atas telapak tangan kiri. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan
Wail bin Hujr dan Qubaishah bin Halab At Thai dari bapaknya
6. disunnatkan membaca do’a istiftah ( pembukaan ) yaitu :
Artinya : “ ya Allah, jauhkanlah aku dari segala dosa, sebagaimana Engkau
menjauhkan timur dan barat. Ya Allah , bersihkanlah aku dari segala dosa seperti dibersihkannya kain putih dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari segala dosa dengan air, es dan salju.”
Selain do’a di atas, bisa juga membaca do’a :
" َكُﺮْﻴَﻏ َﻪَﻝِإ َﻻَو َكﱡﺪَﺟ ﻰَﻝﺎَﻌَﺕَو َﻚُﻤْﺱا َكَرﺎَﺒَﺕَو َكِﺪْﻤَﺤِﺑَو ﱠﻢﻬﻠﻝا ﻚَﻧﺎَﺤْﺒُﺱ "
Artinya : “ Maha suci Engkau, ya Allah. Aku memuji-Mu dengan pujian-Mu,
Maha berkah asma-Mu, Maha tinggi kebesaran-Mu, dan tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau.”
Kemudian membaca ta’awwudz :
) ﻢﻴﺟﺮﻝا نﺎﻄﻴﺸﻝا ﻦﻡ ﷲﺎﺑ ذﻮﻋأ (
Dan basmalah ) ﻢﻴﺡﺮﻝا ﻦﻤﺡﺮﻝا ﷲا ﻢﺴﺑ ( serta surat Al-Fatihah, karena
Rasulullah ρ telah bersabda :
" بﺎﺘﻜﻝا ﺔﺤﺕﺎﻔﺑ أﺮﻘﻳ ﻢﻝ ﻦﻤﻝ ةﻼﺻ ﻻ "
Artinya : “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca fatihatul Kitab.”
Setelah membaca fatihah, ucapkan “ Aamiin” dengan suara keras dalam shalat jahriah ( shalat yang bacaannya dikeraskan / di suarakan. Setelah itu bacalah salah satu surat dari Al Qur’an yang dihafal.
7. Ruku’ dengan membaca takbir serta mengangkat kedua tangan setinggi pundak atau setinggi telinga. Lalu sejajarkan kepala dengan punggung, dan letakkan kedua tangan di atas kedua lutut, dan renggangkan jari-jari, dan berada pada posisi tuma’ninah (menenangkan badan) dalam ruku’, dan mengucapkan :
ﻢﻴﻈﻌﻝا ﻲّﺑر نﺎﺤﺒﺱ
Artinya: “ Maha suci Allah yang Maha agung .”
Diutamakan ucapan itu diulang-ulang tiga kali atau lebih. Dan disunnatkan juga menambahkan bacaan :
ِﻲﻝ ْﺮِﻔْﻏا ﱠﻢُﻬّﻠ ﻝ ا َكِﺪْﻤَﺤِﺑَو ﺎَﻨﱠﺑَر ﱠﻢﻬﻠ ﻝ ا َﻚﻧﺎﺤْﺒُﺱ
Artinya : “ Maha suci Allah, Robb kami, dan dengan memuji Engkau, ya Allah, ampunilah aku.”
8. mengangkat kepala setelah ruku’ dengan mengangkat kedua tangan setinggi pundak atau telinga, seraya mengucapkan :
" ﻩَﺪِﻤَﺡ ْﻦَﻤِﻝ ُﷲا َﻊِﻤَﺱ "
Artinya : “ Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya.”
Dibaca oleh imam, juga ketika dalam shalat sendirian. Ketika berdiri ucapkan :
" ُءْﻞِﻡَو ِضْرَﻷا ُءْﻞِﻡَو ِتاَﻮَﻤﱠﺴﻝا ُءْﻞِﻡ ِﻪْﻴِﻓ ﺎًآَرﺎَﺒُﻡ ﺎًﺒِّﻴَﻃ اًﺮْﻴِﺜَآ اًﺪْﻤَﺡ ُﺪْﻤَﺤﻝ ا َﻚَﻝَو ﺎَﻨﱠﺑَر
ْﻴَﺑ ﺎَﻡ ُﺪْﻌَﺑ ٍءْﻲَﺵ ْﻦِﻡ َﺖْﺌِﺵ ﺎَﻡ ًءْﻞِﻡَو ﺎَﻤُﻬَﻨ "
Artinya : ya Robb kami, bagi Engkau-lah segala puji dengan pujian yang banyak, yang baik dan diberkati, yang memenuhi langit, bumi, antara langit dan bumi, dan memenuhi apa saja yang Engkau kehendaki.”
Lebih baik lagi apa bila setelah mengucapkan do’a tersebut, membaca :
" ُﺪْﺒَﻌﻝ ا َلﺎَﻗ ﺎَﻡ ﱡﻖَﺡَأ ِﺪْﺠَﻤﻝاَو ِءﺎَﻨﱠﺜﻝا ُﻞْهَأ , ُﺪﺒﻋ َﻚَﻝ ﺎَﻨﱡﻠُآَو , َﻻَو َﺖْﻴَﻄْﻋَأ ﺎَﻤِﻝ َﻊِﻧﺎَﻡ َﻻ ﱠﻢُﻬَﻠﻝا
َﺖْﻌَﻨَﻡ ﺎَﻤِﻝ َﻲِﻄْﻌُﻡ , ﻝا َﻚْﻨِﻡ ﱢﺪﺠﻝ ا َاذ ُﻊَﻔْﻨَﻳ َﻻَو ﱡﺪَﺠ "
Artinya : “ Yang memiliki pujian dan keagungan, Yang berhak menerima apa yang dikatakan hamba-Nya. Kami semua milik-Mu, ya Allah. Tidak ada yang dapat menolak apa yang telah Engkau berikan, tidak ada yang dapat memberikan apa yang telah Engkau tolak; dan tidak ada gunanya bagi Engkau kekayaan dunia.”
Menambah do’a di atas merupakan kebaikan, karena do’a di atas
terdapat dalam beberapa hadits yang shahih.
Ketika berdiri dari ruku’, makmum mengucapkan “ Rabbanaa wa lakal hamdu ….” Dan seterusnya. Baik imam, munfarid ( orang yang shalat sendirian ) dan makmum disunnatkan meletakkan kedua tangan di atas dada seperti ketika berdiri ebelum ruku’. Ini berdasarkan petunjuk dari Rasulullah ρ dari hadits yang diriwayatkan oleh wail bin hujr dan Sahal bin Saad Ra.
9. Sujud dengan mengucapkan takbir serta meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan ( kalau bisa/ mampu). Bila tidak bisa / tidak mampu, maka boleh mendahulukan tangan sebelum lutut. Dan jari-jari kedua kaki dan kedua tangan dihadapkan ke arah kiblat, dan jari-jari tangan dirapatkan. Sujud di atas hendaknya dengan menggunakan anggota sujud yang
tujuh, yakni kening bersama hidung, kedua tangan, kedua lutut, dan jari-jari
kedua kaki, serta mengucapkan :
" ﻰﻠﻋﻷا ﻲّﺑر نﺎﺤﺒﺱ "
Artinya: “ Mahasuci Allah yang Mahatinggi.” ( 3x atau lebih) Disunnatkan lagi membaca :
" ﻲﻝ ﺮﻔﻏا ﻢﻬﻠﻝا كﺪﻤﺤﺑو ﺎﻨّﺑر ﻢﻬﻠﻝا ﻚﻧﺎﺤﺒﺱ "
Artinya: “ Mahasuci Engkau, ya Allah, Robb kami, dengan memuji Engkau, ya Allah, ampunilah aku.”
Disunnatkan pula memperbanyak do’a. Rasulullah ρ bersabda :
" ءﺎﻋﺪﻝا ﻲﻓ اوﺪﻬﺘﺟﺎﻓ دﻮﺠﺴﻝا ﺎﻡأو ،بﺮﻝا ﻪﻴﻓ اﻮﻤﻈﻌﻓ عﻮآﺮﻝا ﺎﻡأ نأ ﻦﻤﻘﻓ
ﻢﻜﻝ بﺎﺠﺘﺴﻳ "
Artinya : “ ketika ruku’ maka agungkanlah ( nama )Robbmu. Dan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a, karena do’a kalian layak untuk dikabulkan.” ( HR. Muslim)
" ءﺎﻋﺪﻝا ﻦﻡ اوﺮﺜآﺄﻓ ﺪﺟﺎﺱ ﻮهو ﻪﺑر ﻦﻡ ﺪﺒﻌﻝا نﻮﻜﻳ ﺎﻡ بﺮﻗأ "
Artinya: “ kondisi dimana seorang hamba paling dekat dengan Robbnya adalah di saat ia sedang sujud, karena itu perbanyaklah do’a.” ( HR. Muslim )
8
Disunnatkan pula berdo’a untuk diri sendiri dan mendoakan umat Islam lainnya untuk kebaikan di dunia dan di akhirat. Ketentuan lainnya adalah merenggangkan kedua lengan dari kedua lambung, tidak merapatkan perut dengan paha, merenggangkan kedua paha dari kedua betis dan mengangkat kedua lengan dari tanah tanah (dasar/ tempat sujud ) . hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah ρ :
" دﻮﺠﺴﻝا ﻲﻓ اﻮﻝﺪﻋا , ﺐﻠﻜﻝا طﺎﺴﺒﻧا ﻪﻴﻋارذ ﻢآﺪﺡأ ﻂﺴﺒﻳ ﻻو "
Artinya : “ tegaklah dalam sujud kalian, jangan ada seseorang dari kalian yang meletakkan kedua lengannya seperti anjing.”
10. mengangkat kepala dari sujud ( bangun dari sujud ) dengan mengucapkan takbir, meletakkan telapak kaki yang kiri dan mendudukinya ,
menegakkan kaki yang kanan, meletakkan kedua tangan di atas kedua paha
atau lutut, dan mengucapkan :
Artinya : “ ya Robb, ampunilah aku ( 3x). ya Allah, ampunilah aku, berikanlan rizki-Mu kepadaku, sehatkanlah aku, tunjukilah aku, dan cukupkanlah segala kekuranganku.
Tuma’nina ( menenangkan badan ) ketika duduk sehingga tulangtulangnya
kembali lagi ke tempat asalnya, seperti I’tidal setelah ruku’ . Nabi Muhammad ρ memanjangkan I’tidal dan antara kedua sujud.
11. Sujud kedua dengan mengucapkan takbir, dan mengerjakan seperti yang dikerjakan pada sujud pertama.
12. Mengangkat kepala dengan mengucapkan takbir; lalu duduk sebentar seperti duduk antara dua sujud, yang ini disebut duduk istirahat. Menurut salah satu pendapat ulama ini merupakan amalan yang disunnatkan. Karena itu apabila ini ditinggalkan tidak apa-apa dan di situ tidak ada dzikir maupun do’a yang harus di ucapkan. Kemudian bangkit ke rokaat yang kedua dengan bersandar pada kedua lutut ( bila kondisi memungkinkan ). Bila tidak mampu, maka boleh bersandar pada alas ( dasar/ tempat sujud ) Lalu membaca surat Al Fatihah, dan selanjutnya membaca salah satu surat dari Al-Qur’an. Baru setelah itu mengerjakan seperti yang dilakukan pada rokaat pertama. Makmum tidak diperkenankan mendahului imam, karena Nabi ρ telahmemperingatkan hal itu kepada umatnya. Hukumnya makruh apabila makmum gerakannya bersamaan dengan imam. Yang disunnatkan adalah semua perbuatan dilakukan setelah imam tanpa menunggu-nunggu dan setelah terhentinya suara imam. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ρ :
Artinya : “ Imam hanya dijadikan untuk diikuti, karenanya janganlah kalian
berbeda dengan imam, apabila imam takbir, maka takbirlah, apabila imam
mengucapkan “ sami’allaahu liman hamidah” maka ucapkanlah : “Rabbanaa wa lakal hamd.” Apabila imam sujud, maka sujudlah ( HR. Al- Bukhari- Muslim)
13. Apa bila shalat terdiri dari dua rekaat, seperti shalat Subuh, shalat Jum’at dan shalat Ied, maka setelah sujud yang kedua, duduk dengan menegakkan kaki yang kanan, dan duduk di atas kaki yang kiri, meletakkan tangan kanan di atas paha kanan, menggenggam semua jari-jari kecuali jari telunjuk yang mengisyaratkan pengesaan Allah Ψ, atau menggenggam jari kelingking dan jari manis saja sedangkan jari tengah beserta ibu jari membentuk lingkaran, lalu mengisyaratkan jari telunjuk, ini juga baik bila di lakukan. Kedua cara ini berdasarkan hadits Nabi ρ. Dan tangan kiri diletakkan di atas paha atau lutut yang kiri juga. Dalam duduk ini kemudian
membaca tasyahud, yaitu:
Artinya : “ segala puja dan puji, shalawat dan kebaikan milik Allah, keselamatan dari Allah, rahmatNya dan keberkahanNya kepadamu wahai Nabi ρ, keselamatan kepada kami dan hamba-hamba Allah yang baik. Aku bersaksi tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusanNya. Ya Allah sampaikan keselamatan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan keselamatan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Mahaagung, berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau
telah memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Terpuji dan Mahaagung. Ya Allah aku memohon perlindunganMu dari siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari fitnah Al Masih Ad- Dajjal.”
Kemudian berdoa apa saja meminta kebaikan di dunia dan akhirat, dan jika mendoakan orang tua atau sesama kaum muslimin, maka tidak apa-apa, baik dilakukan dalam shalat wajib maupun dalam shalat sunnat. Selanjutnya salam ke kanan dan ke kiri, seraya mengucapkan:
14. apabila shalat terdiri dari tiga rakaat, seperti shalat Maghrib, atau empat rakaat, seperti shalat Dhuhur,Ashar dan shalat Isya’. Maka setelah membaca tasyahud dan shalawat kepada Nabi ρ, berdiri lagi dengan bersandar pada lutut, mengangkat kedua tangan setinggi pundak dengan mengucapkan “ Allahu Akbar” dan meletakkan kedua tangan di atas dada, lalu membaca Al Fatihah saja. Apabila dalam rakaat ketiga dan keempat dari shalat Dhuhur sesekali menambah bacaan ayat sesudah Fatihah, maka tidak apa-apa, karena ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abi Sa’id τ. Kemudian melakukan tahiyat rakaat ketiga dari shalat Maghrib dan setelah rakaat keempat dari shalat Dhuhur,Ashar atau Isya’; membaca shalawat kepada Nabi ρ , memohon perlindungan dari siksa neraka Jahannam, siksa kubur, dan fitnah Dajjal, memperbanyak doa sebagaimana pada shalat yang dua rakaat. Pada saat ini duduknya “ tawarruk” , yakni meletakkan kaki kiri di bawah kaki kanan, pantat di atas lantai/ alas dengan menegakkan kaki kanan. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abi Humaid. Setelah itu melakukan salam ke kiri dan ke kanan, seraya mengucapkan :
" ﷲا ﺔﻤﺡرو ﻢﻜﻴﻠﻋ مﻼﺴﻝا ، ﷲا ﺔﻤﺡرو ﻢﻜﻴﻠﻋ مﻼﺴﻝا "
Kemudian beristighfar ( 3x) dan mengucapkan :
Artinya : “ Ya Allah , Engkau Mahasejahtera, dari Engkaulah datangnya
kesejahteraan, Engkau Mahaberkah, wahai yang mempunyai keagungan dan kemuliaan, tiada ilah yang berhak disembah selain Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dia mampu atas segala sesuatu. Ya Allah tidak ada yang mampu menghalangi apa yang Engkau berikan, tidak ada yang mampu memberi sesutu yang Engkau tolak, dan tidak ada gunanya bagi Engkau kekayaan manusia, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Engkau, ya Allah. Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah. Kami tidak menyembah selain Dia. Bagi-Nya kenikmatan, bagi-Nya anugrah, dan bagi-Nya pujian yang baik. Tidak ada Tuhan selain Allah. Kami mengikhlaskan dien ini ( agama ini )
karena-Nya, meskipun orang-orang kafir membenci.”
Kemudian membaca tasbih ( subhanallah) 33x, membaca hamdalah (
Alhamdulillaah ) 33x, dan takbir ( Allahu Akbar ) 33x, dan untuk
kesempurnaan bacalah :
Artinya : “ Tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dia mampu atas segala sesuatu.”
Lalu membaca ayat kursi, surat Al Ikhlash ( qul Huwallahu Ahad ), surat
Al Falaq ( qul A’uudzu bi Rabbil Falaq ) dan surat An Naas ( qul A’uudzu bi
Rabbinnaas ) sehabis shalat.
Disunnatkan mengulangi tiga surat tersebut sebanyak tiga kali setelah shalat Maghrib dan Shubuh. Ini berdasarkan hadits yang shahih. Setelah melakukan shalat Maghrib dan Subuh juga disunnatkan membaca dzikir di
bawah ini sepuluh kali setelah membaca dzikir-dzikir yang telah disebutkan
di atas:
Berdasarkan hadits Nabi tentang hal ini.
Seorang imam, setelah mengucapkan istighfar (3x) dan mengucapkan :
Ia berpaling menghadap makmumnya, kemudian berdzikir ( dzikir seperti dijelaskan di atas). Amalan ini sebagaimana telah ditunjukkan beberapa hadits Nabi ρ , antara lain hadits yang diriwayatkan Aisyah τ dalam shahih Muslim. Dan yang perlu diketahui dzikir hukumnya sunnat bukan wajib. Setiap muslim dan muslimah disunnatkan untuk senantiasa berusaha melaksanakan shalat dua belas rakaat disaat tidak bebergian yaitu empat rakaat sebelum Dhuhur, dua rakaat setelah Dhuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya’ dan dua rakaat sebelum Shubuh, karena Nabi ρ selalu menjaga shalat-shalat sunnat ini. Shalat shalat sunnat ini disebut Rawatib.
Ummi Habibah Ra meriwayatkan bahwa Nabi ρ bersabda :
Artinya : “ barang siapa shalat sunnat 12 rakaat setiap hari, maka akan
disediakan untuknya rumah di surga.” ( HR. Muslim)
Jika tengah bepergian atau dalam perjalanan, Nabi ρ meninggalkan shalat sunnat sebelum dan sesudah Dhuhur, shalat sunnat ba’da Maghrib, dan shalat sunnat ba’da Isya’. Tetapi beliau masih tetap memelihari shalat sunnat sebelum Subuh, dan witir. Oleh kerena itu kita perlu meneladaninya, karena Allah telah berfirman :
Artinya : “ sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan
yang baik bagimu ( yaitu ) bagi orang yang mengharap ( rahmat) Allah dan ( kedatangan ) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” QS Al -Ahzab : 21)
Rasulullah ρ pun telah bersabda :
" ﻲﻠﺻأ ﻲﻧﻮﻤﺘﻳأر ﺎﻤآ اﻮﻠﺻ "
Artinya : “ Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
Allah pemberi taufiq.
Salam sejahtera semoga melimpah kepada Nabi kita, Muhammad bin Abdullah, kepada keluarganya, para shahabatnya, dan para pengikutnya
sampai hari kiamat.
Buku : TUNTUNAN THAHARAH DAN SHALAT
PENULIS : SYEIKH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ

0 Comments:
Post a Comment
<< Home