resensi

Kami mudahkan Al-Qur'an untuk diingat. Adakah yang mengambil perhatian? (Surat al-Qamar: 17)

Sunday, November 13, 2005

SERIBU CINTA UNTUK PALESTINA

"Mau ke mana, De?"
"Aksi."
"Demonstrasi apalagi?"
"Solidaritas Palestina.
"Emangnya di Palestina ada apa?"
Ade menalikan tali sepatunya dengan lebih kuat. Mukanya terangkat. "Israel mengepung Al Aqsho. Mereka membantai wanita dan anak-anak tak berdaya. Di Nablus, Jenin, dan banyak tempat lagi."
"Trus, kita mau ngapain, De? Itu kan urusan mereka. Emang dari dulu Israel dan Palestina itu kan kerjaannya perang dan perang saja. Mungkin saja dua negara itu memang ditakdirkan begitu."
"Mbak Rora, Islam itu satu tubuh. Kali ini Israel membabi buta. Kecaman dari banyak negara tidak dihiraukan sama sekali."
"Di mana-mana hal semacam itu kan banyak terjadi. Bahkan di negeri kita sendiri, perang saudara terus-menerus ada. Mungkin saja sudah watak orang jaman sekarang hobinya perang. Untuk apa sih buang-buang energi dengan memikirkan Palestina yang jauh dari jangkauan. Sepertinya kita ini kurang kerjaan saja."
"Palestina milik umat Islam sedunia. Tanah wakaf itu simbol supremasi dan harga diri kaum muslimin. Al Aqsho pernah menjadi kiblat sholat sebelum Ka'bah. Banyak sahabat Rasulullah yang wafat dan dimakamkan di sana."
"Tapi masalah di dalam negeri juga tak kurang banyak untuk dipikirkan, bukan? Krisis moneter, banjir, konflik SARA. Buat apa kita susah-susah……"
"Terserah apa kata Mbak sajalah. Ade berangkat dulu. Assalamu'alaikum."
Ade segera melesat pergi. Membuka handel pintu dengan cepat, menutupnya, membuka pagar, menutupnya, lantas berjalan cepat menuju jalan raya. Melayani debat dengan Mbak Rora seringkali hanya membuang energi sia-sia tanpa guna. Dari Ustadz Umar, Ade pernah belajar bahwa Tabi'in Muhammad bin Wasi' pernah berpesan untuk menghindari memperpanjang perdebatan dengan orang-orang yang bodoh. Orang-orang yang lebih suka bersitegang mengupayakan pembenaran daripada berpikir tenang mencari kebenaran. Karena jenis perdebatan seperti itu tidak akan mendatangkan kebaikan justru malah mengeraskan hati, mengeruhkan jiwa, mengacaukan kedamaian kalbu.
*******
"Yahudi la'natullah!"
"Amerika la'natullah!"
"Mujahidin habiballah!"
Dengan tangan terkepal, teracung ke udara, para peserta aksi solidaritas Palestina terus mengumandangkan takbir, tahlil. Alam pun turut berduka. Angin melambatkan gerakannya. Langit cerah meredupkan panasnya. Awan-awan bergelantungan melindungi para peserta dari teriknya matahari.
Ade meneteskan air mata. Betapa biadab Israel! Bahkan biarawan biarawati turut terbunuh. Seorang Pastur asal Amerika pun ikut jadi korban. Meski itu tentu saja belum seberapa bila dibandingkan dengan jumlah korban dari rakyat muslim Palestina yang mencapai ratusan.
Mata dunia terbuka. Paus di Vatikan Roma mulai bersuara, negara-negara yang sebenarnya budak Amerika pun berani beramai-ramai mengeluarkan pernyataan mengutuk Israel. Kekejian bangsa kera itu memang sudah tidak bisa ditolerir lagi.
"Datanglah kemari wahai Ariel Sharon! Datang untuk tidak kembali lagi! Datang untuk kami antarkan ke neraka!"
"Allaahu Akbar!"
Peserta aksi berteriak dengan suara penuh. Tetap semangat meski peluh berleleran membasahi wajah, mengalir di sekujur tubuh.
"Mending tidur di rumah, Dik!"
"Kasihan, cantik-cantik disuruh lari-lari panas begini. Nanti item, lho."
Beragam komentar bersahutan terdengar saat beberapa korlap (koordinator lapangan) mengomando seluruh peserta aksi untuk berlari-lari kecil dengan tujuan agar kemacetan di jalan raya bisa diminimalir. Orang-orang di sepanjang jalan seperti mendapat tontonan gratis. Komentar terus mengalir. Beberapa di antaranya dibarengi dengan tawa mengejek.
Biarlah. Kebenaran harus ditegakkan! Kebenaran harus ditampakkan! Kebenaran harus dikumandangkan! Opini publik harus diluruskan. Aksi solidaritas merupakan salah satu cara. Bagaimanapun, Yahudilah yang menguasai sebagian besar pusat informasi dunia.
*******
"Qunut nazilah di tiap sholat lima waktu kita. Semoga saudara-saudara di Palestina tetap istiqomah agar bisa meraih gelar syahid, agar husnul khatimah. Wamakaruu wamakarallah. Wallaahu khairul maakirin. Orang-orang kafir boleh saja bangga dengan makar-makar yang mereka rancang, namun Allah yang Maha Perkasa pasti akan membalas makar-makar mereka."
Kajian siang di kost Melati berakhir. Para muslimah yang mengikuti kajian pun bergantian mohon diri. Ade, sang murobbi, melepas kepulangan adik-adik binaannya dengan senyum cerah sampai di gerbang.
"Palestina lagi, Palestina lagi. Kok ya nggak ada bosannya!"
Ade tidak merasa perlu untuk menanggapi. Dia hafal betul warna suara itu. Dengan merebahkan diri di kasur, disetelnya kaset. Tak lama berselang, mengalunlah nasyid Izzatul Islam yang menggelorakan semangat.
"Mengapa kau patahkan pedangmu, hingga musuh mampu membobol bentengmu. Menjarah, menindas dan menyiksa. Dan kita hanya diam sekadar terpana."
Ade tersentak. Ya, kenapa hanya sekadar terpana. Sungguh-sungguhkah aku tidak sanggup berbuat apa-apa lagi selain do'a dan mengikuti aksi solidaritas? Batin Ade bergejolak.
Komponen-komponen dalam otaknya bekerja cepat, bersinergi untuk menghasilkan keputusan yang tepat. Keputusan yang dihasilkan seketika memberi komando pada organ-organ tubuh untuk bergerak.
Tangannya terampil menggunting dan mengelem kertas karton. Diambilnya spidol besar warna hitam. Dengan keseluruhan huruf kapital dia menulis, 'Dana Solidaritas Muslim Palestina'. Dipasangnya di samping televisi, ruang yang paling diminati anak-anak kost di waktu senggang atau bosan.
"Dana buat Palestina. Siapa pula yang akan menyampaikan dana itu. Aku kok nggak yakin bisa nyampai ke sana. Wartawan aja dilarang meliput, kan? Bantuan kemanusiaan dari PBB pun konon tidak bisa masuk. Wah, jangan-jangan malah buat kepentingan parpol tertentu. Lumayan kan untuk modal kampanye tahun 2004 nanti. Pantesan, getol banget mengompori segala macem aksi-aksi."
Darah Ade serasa naik sampai ubun-ubun. "Jangan su'udhon Mbak Rora. Informasi yang dikuasai Yahudi boleh mengatakan apa saja. Namun dengan pertolongan Allah, jangankan cuma orang, senjata berat pun akan masuk Palestina."
"Benar-benar kamu sudah termakan pengaruh orang-orang sok suci, sok peduli itu, De. Hati-hati, sekarang lagi musimnya fundamentalis garis keras nyari pengikut. Habis nanti uang kamu diporotin mereka. Setelah itu......."
"Astaghfirullah, Mbak. Kenapa ngelantur begitu? Dari solidaritas Palestina kenapa disangkutpautkan sama fundamentalis. Apa hubungannya?"
"Yang perlu ditanya itu kamu. Apa hubungannya kamu sama Palestina?"
Ade berusaha mengulur kesabarannya. Entah berapa puluh kali lagi dia harus mengulang kalimat yang sama untuk mengingatkan Mbak Rora tentang urgensi ukhuwah sebagai salah satu pilar syarat bangkitnya kejayaan Islam. "Ade cinta Palestina karena Allah. Ade akan bantu sebisa mungkin. Yahudi-Yahudi laknat itu pasti kalah, suatu saat nanti." Nada bicara Ade tegas.
"Yakin sekali ya, kamu."
"Kenapa tidak yakin? Bukankah Allah Yang Maha Kuasa telah mengirimkan burung-burung ababil dengan kerikil dari neraka untuk menghancurkan pasukan gajah Abrahah? Untuk apa mengaku muslim kalau tidak yakin dengan datangnya pertolongan Allah."
"Hebat...hebat..." Mbak Rora bertepuk tangan. Ujung bibirnya sebelah kanan terangkat sedikit. Menyisakan garis sinis untuk dinikmati Ade.
Namun Ade tidak menghiraukan, justru melanjutkan ucapannya.
"Islam menang adalah suatu kepastian, janji Allah yang tidak bisa tidak pasti akan terjadi. Persoalannya, kita termasuk orang yang memperjuangkan kemenangan itu atau tidak. Atau justru kita akan menjadi orang munafik. Yang apabila datang kemenangan pada kaum muslimin dia berkata 'Aku bersamamu' sedangkan jika datang kekalahan dia bilang, 'Untunglah aku tidak turut bersamamu sehingga terhindar dari celaka dan kematian.'"
"Pintar sekali Ustadzah kita berkhotbah!"
Ade tidak berniat menanggapi lagi. Adzan Asar sudah memanggil. Bergegas dia menuju kran untuk mengambil air wudlu. Mensucikan diri, mensucikan hati.
*******
"Tidak ada kata damai untuk Israel!"
Aksi solidaritas kedua yang diikuti Ade. Dengan kedua tangan mengacungkan poster 'Ariel Sharon, go to hell!', Ade melangkah mantap. Jika Israel telah bertekad maju terus dengan prinsip point of no return, sejak awal perjuangan intifadhah dikobarkan, seluruh mujahidin Palestina dipastikan telah menggenggam prinsip itu. Point of no return, berada pada satu titik yang tidak bisa kembali. Dasar Israel sombong, sok punya nyali! Mereka belum kenal dengan Sholahuddin Al Ayyubi rupanya, belum pernah mendengar kepahlawanan Muhammad Al Fatih, sepak terjang Khalid bin Walid, kelihaian sang panglima belia Usamah bin Zaid, belum tahu kegarangan para singa Allah, Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab. Bangsa yang terkenal suka mengingkari perjanjian itu sepertinya belum pernah mendengar kisah heroik Nusaibah, keberanian Al Khansa, keperkasaan Asma' bin Abu Bakar. Mereka benar-benar terlalu percaya diri!
"Khaibar-khaibar ya Yahuud, ja'isyu Muhammad saufa yauud!"
Rasulullah yang pemaaf pun akhirnya terpaksa memberikan sanksi keras dengan mengusir Yahudi atas perbuatan lancangnya membuka penutup aurat seorang muslimah di pasar.
*******
"Bom bunuh diri. Akhirnya kok putus asa."
"Bukan bom bunuh diri, bom syahid."
"Apapun istilahnya, toh pada hakikatnya sama."
"Hanya Allah yang berhak menilai segala hal yang ada di balik dada."
"Ccck...ide gila. Mau ngirim pasukan? Sok berani betul! Bisa-bisa malah mati konyol...salah-salah malah nembakin orang Palestina sendiri. Berita apa lagi ini. Cck...cck..."
"Bila kita tidak bisa bertindak apa-apa, setidaknya jangan mencela orang-orang yang punya niatan mulia!" Ade memungut koran harian yang dibanting Mbak Rora di atas meja.
"Sebenarnya, ini bukan murni persoalan Islam Yahudi. Paling banter politis sajalah. Yah, wajar saja kan kalau Yahudi ingin berkuasa, ingin selalu dianggap yang terbaik. Itu cuma dampak perlawanan mereka atas ulah Hitler di masa lalu aja, kan?"
"Analisa itu tidak sepenuhnya benar, Ade kira. Apakah Hitler, si pembantai Yahudi itu seorang Muslim? Sejarahnya, permusuhan Yahudi terhadap Islam dimulai sejak mereka tahu bahwa nabi terakhir yang mulia bukan dari bangsa mereka. Mereka sakit hati lantaran terlanjur merasa paling unggul sebagai anak Tuhan."
"Ah, itu kan sejarah versi orang Islam. Jelaslah tiap kaum pasti ngerasa benar sendiri. Punya pikiran tuh yang luas De, jangan sektarian, jangan sempit. Kamu sebagai mahasiswa harus bisa berpikir global, universal, bisa menghormati setiap paham yang ada di muka bumi ini. Menurutku, obsesi yang dipunyai Yahudi itu wajar aja. Apa ingin jadi yang terbaik itu satu kesalahan?"
"Tentu saja tidak jika upaya untuk mencapai keinginan itu dilakukan dengan cara-cara yang fair. Tidak dengan menginjak-injak hak orang lain, memberangus kebebasan beribadah, mengebiri martabat kemanusiaan, dan bahkan menganggap bangsa lain sebagai budak."
"Memangnya Yahudi sudah berbuat apa?"
Ade beristighfar dalam hati. Mulai lagi, mulai lagi. Biarpun Ade sudah jelaskan berulangkali, tak pernah bosan Mbak Rora melontarkan kalimat pertanyaan itu. Salah sendiri lebih percaya berita dari kaum fasik, musyrik dan munafik, batin Ade kesal. Baca koran saja sukanya milih koran yang sahamnya mayoritas dikuasai oleh orang-orang sekuler!
"Israel itu hanya membela diri dari serangan teroris-teroris. Apa itu salah? Apa iya orang diserang musti diam aja. Kita musti jujur dong melihat realitas. Kita umat Islam jangan membabi butalah kalau bikin tuduhan. Katanya rahmatan lil 'alamin!"
Stok kesabaran Ade menipis drastis. Perlu suntikan ruhiyah yang besar untuk memperkuat kembali.
"Maaf, ini sudah malam. Ade mau tidur. Takut nggak bisa bangun buat qiyamullail. Kasihan saudara-saudara di Palestina kalau untuk sekadar mendo'akan mereka pun kita tidak sempat."
"Palestina lagi, emangnya......"
Ade menulikan telinya. Pikiran dan hatinya telah benar-benar lelah. Tak sanggup lagi menghadapi debat ala Mbak Rora. Diputuskannya untuk bersegera menuju kamar. Semoga masih ada kesempatan di esok hari untuk memekarkan bunga cinta di dada, menyebarkan wanginya kepada seluruh muslimin sedunia, harap Ade. Bunga-bunga cinta yang terus bersemi di hati. Cinta yang menyala lebih terang seiring kuatnya tekanan yang dia terima. Seribu cinta untuk bumi Allah Palestina.
Cinta itu telah tumbuh di hati kalian juga, kan?

From : Kumpulan Cerpen

Monday, October 31, 2005

Cinta Laki-laki Biasa

MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa
dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang,
hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi
bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan
Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata
sama herannya.

"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati
hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.
Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar
bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata
yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania
terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia
hanya menarik nafas, mencoba bicara dan menyadari, dia tak punya
kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan
detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi
kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara
mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania
menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania
dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga
generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa
serta buntut mereka.

"Kamu pasti bercanda!"

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak
tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir
dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika
mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania
yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap
Nania!
"Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli
memang melamarnya.

"Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira
Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!"

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah
pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah
itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata
penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya
pesakitan.

"Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama mengambil inisiatif
bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama
siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus
iya, toh?"

Nania terkesima.

"Kenapa?"

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami.

Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat
bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.
Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan
laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa,
kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian
mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

"Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di
kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan
sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

"Tapi kenapa?"

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan
pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang
amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

"Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!"

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi
parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana
tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan
melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli.
Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya.
Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli
tampak 'luar biasa'. Nania cuma punya idealisme berdasarkan perasaan
yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan
nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering
berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari
Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan
kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar
hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan
mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat
perempuan itu sangat bahagia.

"Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania."

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak
percaya.

"Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!"

"Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!"

"Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!"

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes.

Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan
Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!

Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!

Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.

Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik
mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

"Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan
tidak perlu lelaki untuk menghidupimu."

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua.

Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti.
Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan
satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin
setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji
Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.

"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak
terlalu memforsir diri.

"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang."

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu.

Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu
bisa menangkap hanya maksud baik.

"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?"

Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu
sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran
Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji
yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.

Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin
gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak
pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup
perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan
bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan
dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.

Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi
Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan
perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari
puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama
kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat
Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar.

Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

"Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera
dikeluarkan!"

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke
dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga
perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya
normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit.
Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar
mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara
kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat
pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit
dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit.
Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

"Baru pembukaan satu."

"Belum ada perubahan, Bu."

"Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat jam kemudian
menyemaikan harapan.

"Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."

Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang
memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua.

Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak
bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban
pecah. Perkiraan mereka meleset.

"Masih pembukaan dua, Pak!"

Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit
yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin
payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

"Bang?"

Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua
kehidupan.

"Dokter?"

"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar."

Mungkin?

Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang
karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu
kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah
sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan
ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa
berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya
naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap
teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang
bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir
lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

"Pendarahan hebat."

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.

Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana
pecah!

Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali.
Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua
mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda.

Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di
pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan
meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari
kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan
juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi
itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya.
Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di
rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si
kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak
keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah
sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak
perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh.
Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam.

Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang
terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang
kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan
penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan
kehadirannya.

"Nania, bangun, Cinta?"

Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi
dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan
berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang.

Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil
menggenggam tangan istrinya mesra.

Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit
dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini
dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

"Nania, bangun, Cinta?"

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan.
Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat
lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang
menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania.

Anak-anak merindukan ibunya.

Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama
tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata,
gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di
wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab.

Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan
mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan
airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.
Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun
terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke
sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu
cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja
datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang
jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur.
Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun
tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania
mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan
lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah
selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah
perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata
Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan
keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan
di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut.
Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu
melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang
di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada
Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari.
Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di
jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas
hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua
berbisik-bisik.

"Baik banget suaminya!"

"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"

"Nania beruntung!"

"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."

"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana
suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan
Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin
frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang
di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan
selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah
mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua,
anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati,
kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak
berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski
karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki
biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.


Sumber: Cinta Laki-laki Biasa karya Asma Nadia dari kumpulan cerpen
Cinta Laki-laki Biasa, diketik ulang oleh Juli Prasetio Utomo, 28 Juni
2005, dengan pembenahan beberapa ejaan dan tanda baca.

Friday, October 21, 2005

Berinteraksi dengan Al Qur'an

"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur'an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya." ( Al Kahfi: 1-3)

Salawat serta salam bagi Nabi yang mu'jizatnya Al Qur'an, imamnya Al Qur'an, akhlaqnya Al Qur'an, dan penghias dadanya, cahaya hatinya juga penghilang kesedihannya adalah Al Qur'an: Nabi Muhammad bin Abdullah, dan keluarganya serta para sahabatnya, yang beriman dengannya, mendukung dan membantunya, serta mengikuti cahaya yang diturunkan kepadaanya, mereka adalah orang-orang yang beruntung, dan seluruh orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Amma ba'du:

Rabb kita telah memberikan kemuliaan kepada kita --sebagai kaum Muslimin-- dengan menganugerahkan kitab suci yang terbaik yang diturunkan kepada manusia. Rabb kita juga, telah memuliakan kita dengan mengutus nabi yang terbaik yang pernah diutus kepada manusia. Sesuai firman Allah SWT:

"Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?" (Al Anbiyaa: 10).

Kitalah, kaum muslimin, satu-satunya umat yang memeliki manuskrip langit yang paling autentik, yang mengandung firman-firman Allah SWT yang terakhir, yang diberikan untuk menjadi petunjuk bagi umat manusia. Dan anugerah itu terus terpelihara dari perubahan dan pemalsuan kata maupun makna. Karena Allah SWT. telah menjamin untuk memeliharanya, dan tidak dibebankan tugas itu kepada siapapun dari sekalian makhluk-Nya:

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (Al Hijr: 9).

Al Qur'an adalah kitab Ilahi seratus persen: "(Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu." (Huud: 1)

"Dan sesungguhnya Al Qur'an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al Qur'an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji." ( Fush-shilat: 41-42)

Tidak ada di dunia ini, suatu kitab, baik itu kitab agama atau kitab biasa, yang terjaga dari perubahan dan pemalsuan, kecuali Al Qur'an. Tidak ada seorangpun yang dapat menambah atau mengurangi satu hurup-pun darinya.

Ayat-ayatnya dibaca, didengarkan, dihapal dan dijelaskan, sebagaimana bentuknya saat diturunkan oleh Allah SWT kepada nabi Muhammad Saw, dengan perantaraan ruh yang terpercaya (Jibril).

Al Quran berisikan seratus empat belas surah. Seluruhnya dimulai dengan basmalah (bismillahirrahmanirrahim). Kecuali satu surah saja, yaitu surah at Taubah. Ia tidak dimulai dengan basmalah. Dan tidak ada seorang pun yang berani untuk menambahkan basmalah ini pada surah at Taubah, baik dengan tulisan atau bacaan. Karena, dalam masalah Al Qur'an ini, tidak ada tempat bagi akal untuk campur tangan.

Perhatian kaum muslimin terhadap Al Quran sedemikian besarnya, hingga mereka juga menghitung ayat-ayatnya --bahkan kata-katanya, dan malah hurup-hurupnya--. Maka bagaimana mungkin seseorang dapat menambah atau mengurangi suatu kitab yang dihitung kata-kata dan hurup-hurupnya itu?!

Tidak ada di dunia ini suatu kitab yang dihapal oleh ribuan dan puluhan ribu orang, di dalam hati mereka, kecuali Al Qur'an ini, yang telah dimudahkan oleh Allah SWT untuk diingat dan dihapal. Maka tidak aneh jika kita menemukan banyak orang, baik itu lelaki maupun perempuan, yang menghapal Al Qur'an dalam mereka. Ia juga dihapal oleh anak-anak kecil kaum Muslimin, dan mereka tidak melewati satu hurup-pun dari Al Qur'an itu. Demikian juga dilakukan oleh banyak orang non Arab, namun mereka tidak melewati satu hurup-pun dari Al Qur'an itu. Dan salah seorang dari mereka, jika Anda tanya: "siapa namamu?" --dengan bahasa Arab-- niscaya ia tidak akan menjawab! (Karena tidak paham bahasa Arab!, penj.). Ia menghapal Kitab Suci Rabbnya semata untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, meskipun ia tidak memahami apa yang ia baca dan ia hapal, karena ia tertulis dengan bukan bahasanya.

Al Qur'an tidak semata dijaga makna-makna, kalimat-kalimat serta lafazh-lafazhnya saja, namun juga cara membaca dan makhraj hurup-hurupnya. Seperti kata mana yang harus madd (panjang), mana yang harus ghunnah (dengung), izhhar (jelas), idgham (digabungkan), ikhfa (disamarkan) dan iqlab (dibalik). Atau seperti yang digarap oleh suatu ilmu khusus yang dikenal dengan "ilmu tajwid Al Qur'an".

Hingga rasam (metode penulisan) Al Qur'an, masih tetap tertulis dan tercetak hingga saat ini, seperti tertulis pada era khalifah Utsman bin Affan r.a., meskipun metode dan kaidah penulisan telah berkembang jauh. Hingga saat ini, tidak ada suatu pemerintah muslim atau suatu organisasi ilmiah pun, yang berani merubah metode penulisan Al Qur'an itu, dan menerapkan kaidah-kaidah penulisan yang berlaku bagi seluruh buku, media cetak, koran dan lainnya yang ditulis dan dicetak, bagi Al Qur'an.

Allah SWT menurunkan Al Qur'an untuk memberikan kepada manusia tujuan yang paling mulia, dan jalan yang paling lurus.

"Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus." (Al Israa: 9)

"Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." ( Al Maaidah: 15-16)

Al Qur'an adalah "cahaya" yang dianugerahkan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya, di samping cahaya fithrah dan akal:

"Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis)." (An Nuur: 35). Dan Al Qur'an mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai cahaya, dalam banyak ayat.

Seperti dalam firman Allah SWT:

"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu'jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an)." (An Nisaa: 174)

"Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al Qur'an) yang telah Kami turunkan." (At Taghaabun: 8).

Dan berfirman kepada para sahabat Rasulullah Saw dengan firman-Nya:

"Dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an)." (Al A'raaf: 157)

Di antara karakteristik cahaya adalah: Dirinya sendiri telah jelas, kemudian ia memperjelas yang lain. Ia membuka hal-hal yang samar, menjelaskan hakikat-hakikat, membongkar kebatilan-kebatilan, menolak syubhat (kesamaran), menunjukkan jalan bagi orang-orang yang sedang kebingungan saat mereka gamang dalam menapaki jalan atau tidak memiliki petunjuk jalan, serta menambah jelas dan menambah petunjuk bagi orang yang telah mendapatkan petunjuk. Dan jika Al Qur'an mendeskripsikan dirinya sebagai "cahaya", dan dia adalah "cahaya yang istimewa", ia juga mendeskripsikan Taurat dengan kata yang lain:

"Di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)."

Seperti dalam firman Allah SWT:

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)". (Al Maaidah: 44)

Demikian juga mendeskripsikan Injil seperti itu, seperti dalam firman Allah SWT tentang Nabi 'Isa:

"Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi) ." (Al Maidah: 46)

Perbedaan dalam dua pengungkapan itu menunjukkan perbedaan antara Al Qur'an dengan kitab-kitab suci lainnya. Seperti diungkapkan oleh Al Bushiry dalam Lamiah-nya:

"Maha Besar Allah, sesungguhnya agama Muhammad Dan kitab sucinya adalah kitab suci yang paling lurus dan paling teguh Jangan sebut kitab-kitab suci lainnya di depannya Karena, saat mentari pagi telah bersinar, ia akan memadamkan pelita-pelita".

Hal itu karena Al Qur'an ini datang untuk membenarkan kitab-kitab suci yang telah turun sebelumnya. Yaitu yang berkaitan dengan pokok-pokok aqidah dan akhlak, sebelum kitab-kitab itu dipalsukan dan diubah tangan manusia. Al Qur'an juga mengungguli kitab-kitab suci sebelumnya, yaitu dengan mengoreksi dan meluruskan tambahan-tambahan dan perubahan-perubahan yang telah disisipkan oleh manusia dalam kitab-kitab itu. Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu." (Al Maaidah: 48)

Al Qur'an --sebagaimana ia diturunkan oleh Allah SWT-- mempunyai keunggulan-keunggulan yang membuatnya istimewa dibanding kitab suci lainnya. Ia adalah kitab Ilahi, kitab suci yang menjadi mukjizat, kitab yang memberikan penjelasan dan dimudahkan untuk dipahami, kitab suci yang dijamin pemeliharaan keautentikannya, kitab suci bagi agama seluruhnya, kitab bagi seluruh zaman, dan kitab suci bagi seluruh manusia.

Al Qur'an juga mempunyai maksud dan tujuan yang dibidiknya, di antaranya: meluruskan kepercayaan-kepercayaan dan pola pandang manusia tentang Tuhan, kenabian, dan balasan atas amal perbuatan, serta meluruskan pola pandangan tentang manusia, kemuliaannya dan menjaga hak-haknya, terutama bagi kalangan yang lemah dan tidak berpunya.

Ia juga bertujuan untuk menghubungkan manusia dengan Rabbnya, agar manusia hanya menyembah-Nya semata dan bertaqwa kepada-Nya dalam seluruh urusannya.

Al Qur'an juga bertujuan untuk membersihakan jiwa manusia, yang jika jiwa itu telah bersih niscaya bersih dan baiklah seluruh masyarakat. Dan jika jiwa itu rusak, niscaya rusaklah masyarakat seluruhnya.

Ia juga berusaha membentuk keluarga yang kemudian menjadi pangkal kedirian suatu masyarakat. Juga mengajarkan sikap adil terhadap kalangan perempuan, yang merupakan pokok utama dalam bangunan keluarga.

Al Qur'an juga membangun umat yang saleh, yang dianugerahkan amanah untuk menjadi saksi bagi manusia, yang diciptakan untuk memberikan manfaat bagi manusia dan memberikan petunjuk bagi mereka.

Setelah itu, mengajak untuk menciptakan dunia manusia yang saling kenal mengenal dan tidak saling mengisolasi diri, saling memberi maaf dan tidak saling membenci secara fanatik, serta untuk bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan, bukan dalam kejahatan dan permusuhan.

Kita berkewajiban untuk memperlakukan Al Qur'an ini secara baik: dengan menghapal dan mengingatnya, membaca dan mendengarkannya, serta mentadabburi dan merenungkannya.

Kita juga berkewajiban untuk berlaku baik terhadapnya dengan memahami dan menafsirkannya. Tidak ada yang lebih baik dari usaha kita untuk mengetahui kehendak Allah SWT terhadap kita. Dan Allah SWT menurunkan kitab-Nya agar kita mentadabburinya, memahami rahasia-rahasianya, serta mengeksplorasi mutiara-mutiara terpendamnya. Dan setiap orang berusaha sesuai dengan kadar kemampuannya.

Namun yang disayangkan, dalam bidang ini telah terjadi kerancuan yang berbahaya, yaitu dalam memahami dan menafsirkan Al Qur'an. Oleh karena itu harus dibuat rambu-rambu dan petunjuk yang mampu menjaga dari kekeliruan dalam usaha ini, serta perlu diberikan peringatan tentang ranjau-ranjau yang menghadang di jalan, yang dapat berakibat patal jika dilanggar.

Tidak selayaknya umat Al Qur'an mengalami hal yang sama yang pernah terjadi dengan umat Taurat, yang diungkapkan oleh Al Qur'an dalam firman-Nya:

"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal." (Al Jumu'ah: 5).

Kita juga harus berlaku baik terhadap Al Qur'an dengan mengikuti petunjuknya, mengerjakan ajarannya, menghukum dengan syari'atnya serta mengajak manusia mengikuti petunjuknya. Ia adalah manhaj bagi kehidupan individu, undang-undang bagi aturan politik, serta petunjuk dalam berdakwah kepada Allah SWT.

Inilah yang berusaha dilakukan buku ini dalam empat bab utamanya, dengan bertumpu --terutama-- pada Al Qur'an itu sendiri, karena ia adalah objek kita, namun ia juga petunjuk itu.

Umat kita pada abad-abad pertama --yang merupakan abad-abad yang paling utama-- telah berinteraksi dengan baik terhadap Al Qur'an. Mereka berlaku baik dalam memahaminya, mengetahui tujuan-tujuannya, berlaku baik dalam mengimplementasikannya secara massive dalam kehidupan mereka, dalam bidang-bidang kehidupan yang beragam, serta berlaku baik pula dalam mendakwahkannya. Contoh terbaik hal itu adalah para sahabat. Kehidupan mereka telah diubah oleh Al Quran dengan amat drastis dan revolusioner. Al Qur'an telah merubah mereka dari perilaku-perilaku jahiliyah menuju kesucian Islam, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan ke dalam cahaya. Kemudian mereka diikuti oleh murid-murid mereka dengan baik, untuk selanjutnya murid-murid generasi berikutnya mengikuti murid-murid para sahabat itu dengan baik pula. Melalui mereka itulah Allah SWT memberikan petunjuk kepada manusia, membebaskan negeri-negeri, memberikan kedudukan bagi mereka di atas bumi, sehingga mereka kemudian mendirikan negara yang adil dan baik, serta peradaban ilmu dan iman.

Kemudian datang generasi-generasi berikutnya, yang menjadikan Al Qur'an terlupakan, mereka menghapal hurup-hurupnya, namun tidak memperhatikan ajaran-ajarannya. Mereka tidak mampu berinteraksi secara benar dengannya, tidak memprioritaskan apa yang menjadi prioritas Al Qur'an, tidak menganggap besar apa yang dinilai besar oleh Al Qur'an serta tidak menganggap kecil apa yang dinilai kecil oleh Al Qur'an. Di antara merek ada yang beriman dengan sebagiannya, namun kafir dengan sebagiannya lagi, seperti yang dilakukan oleh Bani Israel sebelum mereka terhadap kitab suci mereka. Mereka tidak mampu berinteraksi secara baik dengan Al Qur'an, seperti yang dikehendaki oleh Allah SWT. Meskipun mereka mengambil berkah dengan membawanya serta menghias dinding-dinding rumah mereka dengan ayat-ayat Al Qur'an, namun mereka lupa bahwa keberkahan itu terdapat dalam mengikut dan menjalankan hukum-hukumnya. Seperti difirmankan oleh Allah SWT:

"Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat." (Al An'aam: 155)

Tidak ada jalan untuk membangkitkan umat dari kelemahan, ketertinggalan dan keterpecah-belahan mereka selain dari kembali kepada Al Qur'an ini. Dengan menjadikannya sebagai panutan dan imam yang diikuti. Dan cukuplah Al Qur'an sebagai petunjuk:

"Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?." (An Nisaa: 122)

--------------------------------------------------------------------------------
Berinteraksi dengan Al Qur'an
Penulis: Dr. Yusuf al Qaradhawi
Penerjemah: Abdul Hayyie al Kattani dan M. Yusuf Wijaya
Penerbit: Gema Insani Press
Tahun Terbit: Jakarta, 1999

Wednesday, October 12, 2005

PRAKTEK SHALAT NABI

Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, ditujukan kepada setiap orang
yang menginginkan shalatnya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ρ ,
sesuai dengan sabdanya :
" ﻲﻠﺻأ ﻲﻧﻮﻤﺘﻳأر ﺎﻤآ اﻮﻠﺻ "
Artinya : “ shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Al-
Bukhari)Rincian praktek shalat nabi ρ yang harus kita ikuti adalah :
1. Menyempurnakan wudhu, yakni berwudhu seperti yangdiperintahkan Allah Ψ dalam firmanNya:
Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, apa bila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan
siku-siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai kedua mata
kaki ..”( Al Maidah : 6)
Rasulullah ρ bersabda :
" رﻮﻬﻃ ﺮﻴﻐﺑ ةﻼﺻ ﻞﺒﻘﺕ ﻻ "
Artinya : “ shalat tidak diterima (tidak sah) bila tanpa bersuci”
2. menghadap ke kiblat ( Ka’bah ) dimanapun berada, dengan seluruh badan, dengan niat dalam hati melakukan shalat yang hendak dikerjakan baik shalat fardhu maupun shalat sunnat.
Niat tidak perlu diucapkan dengan lisan karena hal itu tidak dianjurkan dan tidak pernah dicontahkan nabi ρ, dan para shahabat τ pun tidak pernah melafalkan dengan lisan mereka.
Nabi Muhammad ρ mensunahkan agar ketika hendak shalat kita membuat sutrah (batasan) sebagai tempat shalat, baik ketika ia sebagai imam maupun shalat sendiri.
3. Takbiratul ihram dengan mengucapkan “ Allahu Akbar” dengan menatap ke tempat sujud.
4. mengangkat tangan ketika takbir setinggi pundak atau setinggi telinga.
5. meletakkan kedua tangan di atas dada. Telapak tangan kanan berada di atas telapak tangan kiri. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan
Wail bin Hujr dan Qubaishah bin Halab At Thai dari bapaknya
6. disunnatkan membaca do’a istiftah ( pembukaan ) yaitu :

Artinya : “ ya Allah, jauhkanlah aku dari segala dosa, sebagaimana Engkau
menjauhkan timur dan barat. Ya Allah , bersihkanlah aku dari segala dosa seperti dibersihkannya kain putih dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari segala dosa dengan air, es dan salju.”
Selain do’a di atas, bisa juga membaca do’a :
" َكُﺮْﻴَﻏ َﻪَﻝِإ َﻻَو َكﱡﺪَﺟ ﻰَﻝﺎَﻌَﺕَو َﻚُﻤْﺱا َكَرﺎَﺒَﺕَو َكِﺪْﻤَﺤِﺑَو ﱠﻢﻬﻠﻝا ﻚَﻧﺎَﺤْﺒُﺱ "
Artinya : “ Maha suci Engkau, ya Allah. Aku memuji-Mu dengan pujian-Mu,
Maha berkah asma-Mu, Maha tinggi kebesaran-Mu, dan tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau.”
Kemudian membaca ta’awwudz :
) ﻢﻴﺟﺮﻝا نﺎﻄﻴﺸﻝا ﻦﻡ ﷲﺎﺑ ذﻮﻋأ (
Dan basmalah ) ﻢﻴﺡﺮﻝا ﻦﻤﺡﺮﻝا ﷲا ﻢﺴﺑ ( serta surat Al-Fatihah, karena
Rasulullah ρ telah bersabda :
" بﺎﺘﻜﻝا ﺔﺤﺕﺎﻔﺑ أﺮﻘﻳ ﻢﻝ ﻦﻤﻝ ةﻼﺻ ﻻ "
Artinya : “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca fatihatul Kitab.”
Setelah membaca fatihah, ucapkan “ Aamiin” dengan suara keras dalam shalat jahriah ( shalat yang bacaannya dikeraskan / di suarakan. Setelah itu bacalah salah satu surat dari Al Qur’an yang dihafal.
7. Ruku’ dengan membaca takbir serta mengangkat kedua tangan setinggi pundak atau setinggi telinga. Lalu sejajarkan kepala dengan punggung, dan letakkan kedua tangan di atas kedua lutut, dan renggangkan jari-jari, dan berada pada posisi tuma’ninah (menenangkan badan) dalam ruku’, dan mengucapkan :
ﻢﻴﻈﻌﻝا ﻲّﺑر نﺎﺤﺒﺱ
Artinya: “ Maha suci Allah yang Maha agung .”
Diutamakan ucapan itu diulang-ulang tiga kali atau lebih. Dan disunnatkan juga menambahkan bacaan :
ِﻲﻝ ْﺮِﻔْﻏا ﱠﻢُﻬّﻠ ﻝ ا َكِﺪْﻤَﺤِﺑَو ﺎَﻨﱠﺑَر ﱠﻢﻬﻠ ﻝ ا َﻚﻧﺎﺤْﺒُﺱ
Artinya : “ Maha suci Allah, Robb kami, dan dengan memuji Engkau, ya Allah, ampunilah aku.”
8. mengangkat kepala setelah ruku’ dengan mengangkat kedua tangan setinggi pundak atau telinga, seraya mengucapkan :
" ﻩَﺪِﻤَﺡ ْﻦَﻤِﻝ ُﷲا َﻊِﻤَﺱ "
Artinya : “ Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya.”
Dibaca oleh imam, juga ketika dalam shalat sendirian. Ketika berdiri ucapkan :
" ُءْﻞِﻡَو ِضْرَﻷا ُءْﻞِﻡَو ِتاَﻮَﻤﱠﺴﻝا ُءْﻞِﻡ ِﻪْﻴِﻓ ﺎًآَرﺎَﺒُﻡ ﺎًﺒِّﻴَﻃ اًﺮْﻴِﺜَآ اًﺪْﻤَﺡ ُﺪْﻤَﺤﻝ ا َﻚَﻝَو ﺎَﻨﱠﺑَر
ْﻴَﺑ ﺎَﻡ ُﺪْﻌَﺑ ٍءْﻲَﺵ ْﻦِﻡ َﺖْﺌِﺵ ﺎَﻡ ًءْﻞِﻡَو ﺎَﻤُﻬَﻨ "
Artinya : ya Robb kami, bagi Engkau-lah segala puji dengan pujian yang banyak, yang baik dan diberkati, yang memenuhi langit, bumi, antara langit dan bumi, dan memenuhi apa saja yang Engkau kehendaki.”
Lebih baik lagi apa bila setelah mengucapkan do’a tersebut, membaca :
" ُﺪْﺒَﻌﻝ ا َلﺎَﻗ ﺎَﻡ ﱡﻖَﺡَأ ِﺪْﺠَﻤﻝاَو ِءﺎَﻨﱠﺜﻝا ُﻞْهَأ , ُﺪﺒﻋ َﻚَﻝ ﺎَﻨﱡﻠُآَو , َﻻَو َﺖْﻴَﻄْﻋَأ ﺎَﻤِﻝ َﻊِﻧﺎَﻡ َﻻ ﱠﻢُﻬَﻠﻝا
َﺖْﻌَﻨَﻡ ﺎَﻤِﻝ َﻲِﻄْﻌُﻡ , ﻝا َﻚْﻨِﻡ ﱢﺪﺠﻝ ا َاذ ُﻊَﻔْﻨَﻳ َﻻَو ﱡﺪَﺠ "
Artinya : “ Yang memiliki pujian dan keagungan, Yang berhak menerima apa yang dikatakan hamba-Nya. Kami semua milik-Mu, ya Allah. Tidak ada yang dapat menolak apa yang telah Engkau berikan, tidak ada yang dapat memberikan apa yang telah Engkau tolak; dan tidak ada gunanya bagi Engkau kekayaan dunia.”
Menambah do’a di atas merupakan kebaikan, karena do’a di atas
terdapat dalam beberapa hadits yang shahih.
Ketika berdiri dari ruku’, makmum mengucapkan “ Rabbanaa wa lakal hamdu ….” Dan seterusnya. Baik imam, munfarid ( orang yang shalat sendirian ) dan makmum disunnatkan meletakkan kedua tangan di atas dada seperti ketika berdiri ebelum ruku’. Ini berdasarkan petunjuk dari Rasulullah ρ dari hadits yang diriwayatkan oleh wail bin hujr dan Sahal bin Saad Ra.
9. Sujud dengan mengucapkan takbir serta meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan ( kalau bisa/ mampu). Bila tidak bisa / tidak mampu, maka boleh mendahulukan tangan sebelum lutut. Dan jari-jari kedua kaki dan kedua tangan dihadapkan ke arah kiblat, dan jari-jari tangan dirapatkan. Sujud di atas hendaknya dengan menggunakan anggota sujud yang
tujuh, yakni kening bersama hidung, kedua tangan, kedua lutut, dan jari-jari
kedua kaki, serta mengucapkan :
" ﻰﻠﻋﻷا ﻲّﺑر نﺎﺤﺒﺱ "
Artinya: “ Mahasuci Allah yang Mahatinggi.” ( 3x atau lebih) Disunnatkan lagi membaca :
" ﻲﻝ ﺮﻔﻏا ﻢﻬﻠﻝا كﺪﻤﺤﺑو ﺎﻨّﺑر ﻢﻬﻠﻝا ﻚﻧﺎﺤﺒﺱ "
Artinya: “ Mahasuci Engkau, ya Allah, Robb kami, dengan memuji Engkau, ya Allah, ampunilah aku.”
Disunnatkan pula memperbanyak do’a. Rasulullah ρ bersabda :
" ءﺎﻋﺪﻝا ﻲﻓ اوﺪﻬﺘﺟﺎﻓ دﻮﺠﺴﻝا ﺎﻡأو ،بﺮﻝا ﻪﻴﻓ اﻮﻤﻈﻌﻓ عﻮآﺮﻝا ﺎﻡأ نأ ﻦﻤﻘﻓ
ﻢﻜﻝ بﺎﺠﺘﺴﻳ "
Artinya : “ ketika ruku’ maka agungkanlah ( nama )Robbmu. Dan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a, karena do’a kalian layak untuk dikabulkan.” ( HR. Muslim)
" ءﺎﻋﺪﻝا ﻦﻡ اوﺮﺜآﺄﻓ ﺪﺟﺎﺱ ﻮهو ﻪﺑر ﻦﻡ ﺪﺒﻌﻝا نﻮﻜﻳ ﺎﻡ بﺮﻗأ "
Artinya: “ kondisi dimana seorang hamba paling dekat dengan Robbnya adalah di saat ia sedang sujud, karena itu perbanyaklah do’a.” ( HR. Muslim )
8
Disunnatkan pula berdo’a untuk diri sendiri dan mendoakan umat Islam lainnya untuk kebaikan di dunia dan di akhirat. Ketentuan lainnya adalah merenggangkan kedua lengan dari kedua lambung, tidak merapatkan perut dengan paha, merenggangkan kedua paha dari kedua betis dan mengangkat kedua lengan dari tanah tanah (dasar/ tempat sujud ) . hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah ρ :
" دﻮﺠﺴﻝا ﻲﻓ اﻮﻝﺪﻋا , ﺐﻠﻜﻝا طﺎﺴﺒﻧا ﻪﻴﻋارذ ﻢآﺪﺡأ ﻂﺴﺒﻳ ﻻو "
Artinya : “ tegaklah dalam sujud kalian, jangan ada seseorang dari kalian yang meletakkan kedua lengannya seperti anjing.”
10. mengangkat kepala dari sujud ( bangun dari sujud ) dengan mengucapkan takbir, meletakkan telapak kaki yang kiri dan mendudukinya ,
menegakkan kaki yang kanan, meletakkan kedua tangan di atas kedua paha
atau lutut, dan mengucapkan :
Artinya : “ ya Robb, ampunilah aku ( 3x). ya Allah, ampunilah aku, berikanlan rizki-Mu kepadaku, sehatkanlah aku, tunjukilah aku, dan cukupkanlah segala kekuranganku.
Tuma’nina ( menenangkan badan ) ketika duduk sehingga tulangtulangnya
kembali lagi ke tempat asalnya, seperti I’tidal setelah ruku’ . Nabi Muhammad ρ memanjangkan I’tidal dan antara kedua sujud.
11. Sujud kedua dengan mengucapkan takbir, dan mengerjakan seperti yang dikerjakan pada sujud pertama.
12. Mengangkat kepala dengan mengucapkan takbir; lalu duduk sebentar seperti duduk antara dua sujud, yang ini disebut duduk istirahat. Menurut salah satu pendapat ulama ini merupakan amalan yang disunnatkan. Karena itu apabila ini ditinggalkan tidak apa-apa dan di situ tidak ada dzikir maupun do’a yang harus di ucapkan. Kemudian bangkit ke rokaat yang kedua dengan bersandar pada kedua lutut ( bila kondisi memungkinkan ). Bila tidak mampu, maka boleh bersandar pada alas ( dasar/ tempat sujud ) Lalu membaca surat Al Fatihah, dan selanjutnya membaca salah satu surat dari Al-Qur’an. Baru setelah itu mengerjakan seperti yang dilakukan pada rokaat pertama. Makmum tidak diperkenankan mendahului imam, karena Nabi ρ telahmemperingatkan hal itu kepada umatnya. Hukumnya makruh apabila makmum gerakannya bersamaan dengan imam. Yang disunnatkan adalah semua perbuatan dilakukan setelah imam tanpa menunggu-nunggu dan setelah terhentinya suara imam. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ρ :
Artinya : “ Imam hanya dijadikan untuk diikuti, karenanya janganlah kalian
berbeda dengan imam, apabila imam takbir, maka takbirlah, apabila imam
mengucapkan “ sami’allaahu liman hamidah” maka ucapkanlah : “Rabbanaa wa lakal hamd.” Apabila imam sujud, maka sujudlah ( HR. Al- Bukhari- Muslim)
13. Apa bila shalat terdiri dari dua rekaat, seperti shalat Subuh, shalat Jum’at dan shalat Ied, maka setelah sujud yang kedua, duduk dengan menegakkan kaki yang kanan, dan duduk di atas kaki yang kiri, meletakkan tangan kanan di atas paha kanan, menggenggam semua jari-jari kecuali jari telunjuk yang mengisyaratkan pengesaan Allah Ψ, atau menggenggam jari kelingking dan jari manis saja sedangkan jari tengah beserta ibu jari membentuk lingkaran, lalu mengisyaratkan jari telunjuk, ini juga baik bila di lakukan. Kedua cara ini berdasarkan hadits Nabi ρ. Dan tangan kiri diletakkan di atas paha atau lutut yang kiri juga. Dalam duduk ini kemudian
membaca tasyahud, yaitu:
Artinya : “ segala puja dan puji, shalawat dan kebaikan milik Allah, keselamatan dari Allah, rahmatNya dan keberkahanNya kepadamu wahai Nabi ρ, keselamatan kepada kami dan hamba-hamba Allah yang baik. Aku bersaksi tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusanNya. Ya Allah sampaikan keselamatan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan keselamatan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Mahaagung, berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau
telah memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Terpuji dan Mahaagung. Ya Allah aku memohon perlindunganMu dari siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari fitnah Al Masih Ad- Dajjal.”
Kemudian berdoa apa saja meminta kebaikan di dunia dan akhirat, dan jika mendoakan orang tua atau sesama kaum muslimin, maka tidak apa-apa, baik dilakukan dalam shalat wajib maupun dalam shalat sunnat. Selanjutnya salam ke kanan dan ke kiri, seraya mengucapkan:
14. apabila shalat terdiri dari tiga rakaat, seperti shalat Maghrib, atau empat rakaat, seperti shalat Dhuhur,Ashar dan shalat Isya’. Maka setelah membaca tasyahud dan shalawat kepada Nabi ρ, berdiri lagi dengan bersandar pada lutut, mengangkat kedua tangan setinggi pundak dengan mengucapkan “ Allahu Akbar” dan meletakkan kedua tangan di atas dada, lalu membaca Al Fatihah saja. Apabila dalam rakaat ketiga dan keempat dari shalat Dhuhur sesekali menambah bacaan ayat sesudah Fatihah, maka tidak apa-apa, karena ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abi Sa’id τ. Kemudian melakukan tahiyat rakaat ketiga dari shalat Maghrib dan setelah rakaat keempat dari shalat Dhuhur,Ashar atau Isya’; membaca shalawat kepada Nabi ρ , memohon perlindungan dari siksa neraka Jahannam, siksa kubur, dan fitnah Dajjal, memperbanyak doa sebagaimana pada shalat yang dua rakaat. Pada saat ini duduknya “ tawarruk” , yakni meletakkan kaki kiri di bawah kaki kanan, pantat di atas lantai/ alas dengan menegakkan kaki kanan. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abi Humaid. Setelah itu melakukan salam ke kiri dan ke kanan, seraya mengucapkan :
" ﷲا ﺔﻤﺡرو ﻢﻜﻴﻠﻋ مﻼﺴﻝا ، ﷲا ﺔﻤﺡرو ﻢﻜﻴﻠﻋ مﻼﺴﻝا "
Kemudian beristighfar ( 3x) dan mengucapkan :
Artinya : “ Ya Allah , Engkau Mahasejahtera, dari Engkaulah datangnya
kesejahteraan, Engkau Mahaberkah, wahai yang mempunyai keagungan dan kemuliaan, tiada ilah yang berhak disembah selain Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dia mampu atas segala sesuatu. Ya Allah tidak ada yang mampu menghalangi apa yang Engkau berikan, tidak ada yang mampu memberi sesutu yang Engkau tolak, dan tidak ada gunanya bagi Engkau kekayaan manusia, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Engkau, ya Allah. Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah. Kami tidak menyembah selain Dia. Bagi-Nya kenikmatan, bagi-Nya anugrah, dan bagi-Nya pujian yang baik. Tidak ada Tuhan selain Allah. Kami mengikhlaskan dien ini ( agama ini )
karena-Nya, meskipun orang-orang kafir membenci.”
Kemudian membaca tasbih ( subhanallah) 33x, membaca hamdalah (
Alhamdulillaah ) 33x, dan takbir ( Allahu Akbar ) 33x, dan untuk
kesempurnaan bacalah :
Artinya : “ Tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dia mampu atas segala sesuatu.”
Lalu membaca ayat kursi, surat Al Ikhlash ( qul Huwallahu Ahad ), surat
Al Falaq ( qul A’uudzu bi Rabbil Falaq ) dan surat An Naas ( qul A’uudzu bi
Rabbinnaas ) sehabis shalat.
Disunnatkan mengulangi tiga surat tersebut sebanyak tiga kali setelah shalat Maghrib dan Shubuh. Ini berdasarkan hadits yang shahih. Setelah melakukan shalat Maghrib dan Subuh juga disunnatkan membaca dzikir di
bawah ini sepuluh kali setelah membaca dzikir-dzikir yang telah disebutkan
di atas:
Berdasarkan hadits Nabi tentang hal ini.
Seorang imam, setelah mengucapkan istighfar (3x) dan mengucapkan :
Ia berpaling menghadap makmumnya, kemudian berdzikir ( dzikir seperti dijelaskan di atas). Amalan ini sebagaimana telah ditunjukkan beberapa hadits Nabi ρ , antara lain hadits yang diriwayatkan Aisyah τ dalam shahih Muslim. Dan yang perlu diketahui dzikir hukumnya sunnat bukan wajib. Setiap muslim dan muslimah disunnatkan untuk senantiasa berusaha melaksanakan shalat dua belas rakaat disaat tidak bebergian yaitu empat rakaat sebelum Dhuhur, dua rakaat setelah Dhuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya’ dan dua rakaat sebelum Shubuh, karena Nabi ρ selalu menjaga shalat-shalat sunnat ini. Shalat shalat sunnat ini disebut Rawatib.
Ummi Habibah Ra meriwayatkan bahwa Nabi ρ bersabda :
Artinya : “ barang siapa shalat sunnat 12 rakaat setiap hari, maka akan
disediakan untuknya rumah di surga.” ( HR. Muslim)
Jika tengah bepergian atau dalam perjalanan, Nabi ρ meninggalkan shalat sunnat sebelum dan sesudah Dhuhur, shalat sunnat ba’da Maghrib, dan shalat sunnat ba’da Isya’. Tetapi beliau masih tetap memelihari shalat sunnat sebelum Subuh, dan witir. Oleh kerena itu kita perlu meneladaninya, karena Allah telah berfirman :
Artinya : “ sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan
yang baik bagimu ( yaitu ) bagi orang yang mengharap ( rahmat) Allah dan ( kedatangan ) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” QS Al -Ahzab : 21)
Rasulullah ρ pun telah bersabda :
" ﻲﻠﺻأ ﻲﻧﻮﻤﺘﻳأر ﺎﻤآ اﻮﻠﺻ "
Artinya : “ Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
Allah pemberi taufiq.
Salam sejahtera semoga melimpah kepada Nabi kita, Muhammad bin Abdullah, kepada keluarganya, para shahabatnya, dan para pengikutnya
sampai hari kiamat.


Buku : TUNTUNAN THAHARAH DAN SHALAT
PENULIS : SYEIKH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ

Wednesday, August 10, 2005

Orang – orang yang Didoakan oleh Malaikat

Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi
Allah SWT berfirman, “Sebenarnya (malaikat – malaikat itu) adalah hamba – hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah – perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang – orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati – hati karena takut kepada-Nya” (QS Al Anbiyaa’ 26-28)
Inilah orang – orang yang didoakan oleh para malaikat :

Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci’” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)
Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’” (Shahih Muslim no. 469)
Orang – orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)
Orang – orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)
Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu” (Shahih Bukhari no. 782)
Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia’” (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)
Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mere ka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’” (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)
Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’” (Shahih Muslim no. 2733)
Orang – orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’” (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)
Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang makan sahur” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)
Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)
Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)
Maraji’ :
Disarikan dari Buku Orang – orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005

Sunday, July 17, 2005

KEUTAMAAN AL-MA’TSURAT

Al-Ma’tsurat adalah kumpulan wirid yang disusun oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna. Di dalamnya terdiri dari ayat-ayat pilihan dan lafal-lafal dari hadits Rasulullah saw. yang biasa beliau amalkan dalam wiridnya. Dinamakan Al-Ma’tsurat, karena memang semua yang ada dalam kumpulan wirid ini dituntunkan (ada riwayatnya) oleh Rasulullah saw. Kata ‘Ma’tsur’ sendiri artinya yang dituntunkan (ada riwayatnya) oleh Rasulullah saw.
Membaca wirid merupakan salah satu sarana dzikir (mengingat Allah) di samping sarana-sarana yang lain. Setiap mukmin harus senantiasa mengingat Allah dalam setiap kesempatan. Yang demikian ini akan menguatkan hatinya dan menjaga kestabilan jiwanya. Dzikir kepada Allah setiap saat juga merupakan karakteristik para ulul albab (orang-orang yang berakal). Allah berfirman,
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring ........ “ (Ali Imran : 191)
Jamaah Ikhwanul Muslimin yang dirintis oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna ingin membina setiap mukmin menjadi sosok manusia seutuhnya. Disamping tarbiyah ruhiyah. Setiap anggota Ikhwanul dituntut untuk senantiasa ber-ittiba’ kepada sunnah Nabi saw. Diantaranya dengan mengamalkan wirid-wirid beliau setiap harinya.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasul Allah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab : 21)
wirid Al-Ma’tsurat bisa kita amalkan setiap hari pada pagi dan petang hari. Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan nama) Allah dengan berdzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab : 41-42)
Cukuplah kiranya hadits berikut untuk menjelaskan keutamaan dzikir dan para pelakunya.
Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman, “Aku itu ada pada persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku akan menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam sebuah jamaah, Aku akan menyebutnya di dalam jamaah yang lebih baik dari mereka.” (Muttafaq ‘alaih)


1.
Allah swt. berfirman :

“Maka jika kamu membaca Al-Qur’an, mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.”


Diriwayatkan oleh Ibnu Sunni dari Anas ra. dari nabi saw. bahwa beliau bersabda.

“Barangsiapa di waktu pagi mengucapkan a’udzu billahis sami’il alim ....., dia akan dibebaskan dari gangguan syetan hingga sore hari.”

2.
Hadits Ubay bin Ka’ab ra. menceritakan, bahwa Rasulullah saw. bersabda,

“Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman tangan-Nya, tidaklah diturunkan dalam Taurat, Zabur, Injil, atau Furqon yang sebanding dengan Al-Fatihah. Sesungguhnya ia merupakan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Qur’an yang agung yang dianugerahkan kepada ku.” (HR. Tirmidzi dan ia mengatakan, ‘Hadits ini hasan shahih.’)


Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya dengan sanad dari Ubay bin Ka’ab dari Nabi saw., bahwa beliau saw. bersabda,

“Setiap pekerjaan yang bermanfaat yang tidak dimulai dengan ‘Bismillahirrohmanir-rohim’, maka perkara itu terputus.” Artinya, amal itu sedikit nilai berkahnya.

3.
Diriwayatkan oleh Ad-Darami dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab dari ibnu Mas’ud ra. bahwa dia berkata, “Barangsiapa membaca sepuluh ayat dari surat Al-Baqoroh di permulaan siang, maka ia tidak akan didekati oleh syetan hingga sore. Dan jika membacanya sore hari, maka ia tidak akan didekati oleh syetan sampai pagi hari dan ia tidak akan melihat sesuatu yang dibenci pada keluarga dan hartanya.”


Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabrani dalam kitab Al-Kabir dan Al-Hakim dalam Shahih-nya, dari Ibnu Mas’ud ra. Nabi saw. bersabda,

“Barangsiapa membaca sepuluh ayat; empat ayat dari awal surat Al-Baqoroh, ayat kursi dan dua ayat sesudahnya, serta ayat-ayat terakhir dari Al-Baqoroh tersebut, maka rumahnya tidak akan dimasuki oleh syetan sampai pagi.”

4.
Dari Abdullah bin Hubaib ra., ia berkata, “(Suatu ketika) kami keluar pada malam yang gelap gulita dan sedang hujan. Kami meminta kepada Rasululloh saw. agar berkenan mendo’a-kan kami. Maka kami pun menjumpai beliau, lalu beliau bersabda, ‘katakanlah !’ Saya tidak mengatakan apa-apa. Kemudian beliau bersabda, ‘katakanlah !’ Saya tidak mengatakan apa-apa. Kemudian saya bertanya, ‘apa yang harus saya kataka, wahai Rasululloh ?’ Beliau bersabda, ‘Qulhuwallohu ahad dan dua surat perlindungan (Al-Falaq dan An-Naas) tatkala sore dan pagi hari masing-masing tiga kali, niscaya ia sudah mencukupi dari segala sesuatu.” (Hadits riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i. At-Tirmidzi berkata, ini hadits hasan shahih.”)

5.
Dari Abu Hurairah ra. berkata, “Rasululloh saw. tatkala pagi hari selalu membaca : asbahna wa asbahal mulku lillah ......., dan ketika sore hari berkata : amsaina wa amsal mulku lillah .......” (Hadits riwayat Ibnu Sunni dan Al-Bazzar. Al-Baihaqi berkata ‘hadits ini sanadnya baik’)

6.
Dari Ubay bin Ka’ab ra. berkata, “Ketika pagi hari Rasululloh saw. Mengajarkan kepada kami untuk membaca : asbahna ‘ala fitrotil islam ......., dan ketika sore hari juga membaca do’a yang sama.” (Hadits riwayat Abdullah bin imam Ahmad ibnu Hambal dalam zawaid-nya).

7.
Dari ibnu Abbas ra., ia berkata, “Telah bersabda Rasululloh saw., ‘barangsiapa membaca tiga kali : allahuma inni asbahtu mingka ......., maka wajib bagi Allah untuk menyempurnakan nikmat-Nya kepada orang tersebut.” (Hadits riwayat Ibnu Sunni).

8.
Dari Abdullah bin Ghannam Al-Bayadhi bahwa Rasulullah saw. bersabda, “barangsiapa ketika pagi membaca : allahumma ma-asbaha bi ......., maka sesungguhnya ia telah menunaikan syukur pada hari itu. Dan barangsiapa membacanya ketika sore hari, maka ia telah menunaikan syukur pada malam harinya.” (Hadits riwayat Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Hibban dalam shahih-nya)

9.
Dari Abdullah bin Umar ra., bahwasanya Rasulullah saw. bercerita kepada mereka tentang seorang hambadari hamba Allah yang mengatakan : ya rabbi lakal hamdu ......., maka dua malaikat merasa berat dan tidak tahu bagaimana harus mencatat (pahalanya). Kemudian keduanya naik ke langit seraya berkata, ‘Wahai Tuhan kami, sesungguhnya hamba-Mu telah mengatakan satu perkataan yang kami tidak tahu bagaimana mencatat (pahala)-nya.’ Allah swt. – Dia Mahatahu apa yang dikatakan hamba-Nya – berfirman, ‘Apakah yang dikatakan hamba-Ku ?’ kedua malaikat menjawab, ‘sesungguhnya ia mengatakan : ya rabbi lakal hamdu ........’ maka Allah swt berfirman, ‘Catatlah pahalanya sebagaimana yang diucapkan oleh hamba-Ku tadi, sampai ia berjumpa dengan-Ku niscaya Aku akan membalasnya.’” (Hadits riwayat Imam Ahmad, Ibnu Majah, dan para perawinya tsiqoh).

10.
Dai Abi Salam ra. – seorang pelayan Rasulullah saw. – dalam hadits marfu’, ia berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa ketika pagi dan sore hari mengatakan : radiitu billahi rabba .........., maka adalah wajib bagi Allah untuk meridhainya.” (Hadits riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Al-Hakim)

11.
Dari Juwairah (Ummul Mukminin ra.), Nabi saw. keluar dari sisinya pagi-pagi untuk shalat shubuh di masjid. Beliau kembali (ke kamar Juwairah) pada waktu dhuha, sementara ia masih duduk di sana. Lalu Rasulullah saw. Bertanya, ‘engkau masih duduk sebagaimana ketika aku tinggalkan tadi ?’ Juwairah menjawab, ‘ya’ maka Rasulullah saw bersabda, ‘Sungguh, aku telah mengatakan kepadamu empat kata sebanyak tiga kali, yang seandainya empat kata itu ditimbang dengan apa saja yang engkau baca sejak tadi tentu akan menyamainya, (empat kata itu adalah) yakni : subhanallahi wabihamdihi, ‘adadakhalqihi ..........” (Hadits riwayat Muslim)

12.
Dari Utsman bin Affan ra. berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidaklah seorang hamba setiap pagi dan sore membaca : bismillahilladzi la yadhurru ......, kecuali bahwa tidak ada sesuatu yang membahayakannya.” (Hadits riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, Hadits ini hasan Shahih)

13.
Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra. berkata bahwa suatu hari Rasulullah saw. berkutbah di hadapan kita, seraya bersabda,

“Wahai sekalian manusia, takutlan kalian kepada syirik, karena sesungguhnya syirik itu lebih lembut dari binatang semut.” Kemudian berkatalah seseorang kepada beliau, ‘bagaimana kita berhati-hati kepadanya wahai Rasul, sementara dia lebih lembut daripada binatang semut ?’ Rasulullah saw. Bersabda, ‘Katakanlah allahumma inna na’udzubika ........’ (Hadits riwayat Ahmad dan Thabrani dengan sanad yang baik. Juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la sebagaimana hadits tadi dari Hudzaifah, hanya saja Hudzaifah berkata, ‘Beliau (Rasulullah saw.) membacanya tiga kali’)

14.
Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa menjelang sore membaca : a’uudzu bikalimatillahi ........ sebanyak tiga kali, maka tidak akan membahayakan baginya racun yang ada pada malam itu.” (Hadits riwayat Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya)

15.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra. berkata, “Suatu hari Rasulullah saw. masuk masjid, tiba-tiba beliau jumpai seorang anshor yang bernama Abu Umamah. Rasulullah saw., bertanya ‘Wahai Abu Umamah, mengapa kamu duduk-duduk di masjid di luar waktu shalat ?’Abu Umamah ra. menjawab, ‘Karena kegalauan yang melanda hatiku dan hutang-hutangku, wahai Rasulullah.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Bukanlah aku telah mengajarimu beberapa bacaan, yang bila kau baca niscaya Allah akan menghilangkan rasa galau dari dirimu dan melunasi hutang-hutangmu ?’ Abu Umamah berkata, ‘Betul, wahai Rasulullah.’ Rasulullah bersabda, ‘Ketika pagi dan sore ucapkanlah : allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazan ......’ Kemudian aku melakukan perintah tadi, maka Allah menghilangkan rasa galau dari diriku dan melunasi hutang-hutangku.” (Hadits riwayat Abu Dawud)

16.
Dari Abdurrahman bin Abu Bakar ra., dia berkata kepada ayahnya, “wahai ayahku, sesunguhnya aku mendengar engkau berdo’a, allahumma ‘afini fi badani ........ engkau lakukan itu tiga kali ketika pagi dan tiga kali ketika sore,” Sang ayah berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw. berdo’a seperti itu, maka aku pun ingin mengikuti sunnah beliau.” (Hadits riwayat Abu Dawud dan yang lainnya)

17.
Dari Syaddad bin Aus ra., Nabi saw. Bersabda, “Sayyidul Istighfar (do’a permohonan ampunan yang terbaik) adalah : allahumma anta rabbi la-ilaha illa anta khalaqtani ....... barangsiapa membacanya ketika sore hari dengan yakin akan kandungannya, kemudian meninggal pada malam itu, maka ia pun akan masuk surga. Dan barangsiapa membacanya pada pagi hari dengan yakin akan kandungannya kemudian meninggal pada hari itu, maka ia akan masuk surga.” (Hadits riwayat Bukhari dan yang lainnya)

18.
Dari Zaid (pelayan Rasulullah saw.) berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘barangsiapa yang membaca : astagfirullahalladzi la-illa huwal hayyu ......, Allah akan mengampuninya, meski ia lari dari pertempuran.” (Hadits riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, dan Al-Hakim. Al-Hakim berkata, ‘Hadits ini shahih berdasarkan atas syarah Bukhari dan Muslim)

19.
Dari Abu Darda’ ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa membaca shalawat kepadaku sepuluh kali ketika pagi dan sepuluh kali ketika sore, maka ia akan memperoleh syafaatku pada hari kiamat.” (Hadits riwayat Thabrani)

20.
Dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya berkata, “Barangsiapa bertasbih kepada Allah seratus kali ketika pagi hari dan seratus kali ketika sore hari, maka ia seperti orang yang melakukan haji seratus kali. Barangsiapa bertahmid kepada Allah seratus kali ketika pagi hari dan seratus kali ketika sore hari, maka ia seperti orang yang membawa seratus kuda perang untuk berjihad di jalan Allah. Barangsiapa mengucapkan tahlil (Lailaha illallah) seratus kali ketika pagi hari dan seratus kali ketika sore hari, maka ia seperti memerdekakan seratus budak dari anak cucu Ismail. Barangsiapa mengucapkan takbir (Allahu Akbar) seratus kali ketika pagi hari dan seratus kali ketika sore hari, maka Allah tidak akan memberi seorang melebihi apa yang diberikan kepadanya, kecuali orang itu melakukan hal yang sama atau lebih.” (Hadits riwayat Tirmidzi dan ia berkata, ‘Hadits ini hasan.’ An-Nasa’i juga meriwayatkan hadits yang sama)


Dan dari Ummu Hani’ ra., Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Wahai Ummu Hani’, ketika pagi hari bertasbihlah kepada Allah seratus kali, bacalah tahlil seratus kali, bacalah tahmid seratus kali, dan bertakbirlah seratus kali, maka sesungguhnya seratus unta yang kau qurbankan, dan seratus tahlil itu tdak akan menyisakan dosa sebelumnya dan sesudahnya.” (Hadits riwayat Thabrani)

21.
Dari Abu Ayyub ra., Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa ketika pagi hari membaca : la-ilaaha illallahu wahdahu la-syarika lahu ........ sepuluh kali, maka Allah akan mencatat setiap kali itu dengan sepuluh kebaikan dan menghapus sepuluh kejelekan, serta mengangkatnya dengan bacaan tadi sepuluh derajat. Bacaan tadi (pahalanya) bagaikan memerdekakan sepuluh budak, dan ia bagi pembacanya sebagai senjata bagi permulaan siang sampai menjelang sore, serta hari itu ia tidak akan mengerjakan pekerjaan yang akan mengalahkannya. Dan barangsiapa membacanya ketika sore hari, maka ia (pahalanya) seperti itu juga.” (Hadits riwayat Ahmad, Ath-Thabrani, Sa’id bin Mansur, dan yang lainnya)

22.
Dari Jubair bin Muth’im ra. Berkata, Rasulullah saw. Bersabda, “Barangsiapa membaca : subhanakallahumma wabihamdika ....... pada suatu majelis dzikir, maka bacaan itu seperti stempel yang dicapkan kepadanya. Dan barangsiapa mengucapkannya pada forum iseng, maka bacaan itu sebagai kafarat baginya.” (Hadits riwayat An-Nasa’i, Al-Hakim, Ath-Tharani, dan yang lainnya)

13.
Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata, “Kami meriwayatkan dalam kitab Hilyatul Auliya’ dari Ali ra., ‘Barangsiapa suka mendapatkan timbangan kebajikan yang sempurna, maka hendaklah di akhir majelisnya ia membaca subhana rabbika raabil ‘izzati amma yasifuun ............”


Pustaka
_______, 1984. Al-Qur’an dan terjemahnya. Departemen Agama Republik Indonesia. jakarta
Sabiq, S. 1988. Fikih Sunah. jil 5. Al-Ma’arif. Bandung. 254-313.
An-Nawawi, S. 1996. Riyadhus Shalihin. Jil 2. Pustaka Amani. Jakarta. 363-368.
Shaleh, Q., A. A. Dahlan, dan M. D. Dahlan,. 1993. Asbabun Nuzul : latar belakang historis turunnya ayat-ayat Al-Qur’an. Cet 15. CV. Diponegoro. Jakarta.

tafsir

“Demi masa. (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (3)

Apakah Iman Itu ?

Kami tidak mendifinisikan iman di sini dengan definisi fiqih, akan tetapi kami membicarakan tentang tabiatnya dan nilainya dalam kehidupan.

Iman adalah hubungan wujud insani yang fana, kecil, dan terbatas ini dengan asal yang mutlak dan azali serta abadi yang menjadi sumber semesta. Oleh karena itu ia berhubungan dengan wujud yang berasal dari sumber itu, berhubungan dengan aturan-aturan yang mengatur alam semesta ini, dan berhubungan dengan kekuatan rasional.

Dan rasa ketuhananlah yang membingkai arahan yang darinya manusia menerima pandangan-pandangannya, tata nilainya, timbangan-timbangannya, norma-normanya, syari’atnya, dan undang-undangnya, dan segala sesuatu yang menghubungkannya dengan Allah, dengan alam semesta, atau dengan sesama manusia. Dengan begitu maka tersingkirlah dari kehidupannya hawa nafsu dan kepentingan pribadi, dan digantikan dengan syari’at dan keadilan. Dan rasa ketuhanan ini akan meninggikan perasaan manusia beriman dengan nilai manhajnya, dan mengunggulkannya atas pola pandang jahiliah, tata nilai, dan norma-normanya, dan atas semua tata nilai yang dikembangkan dari ikatan-ikatan dunia nyata… walaupun ia cuma seorang diri yang bersikap begitu. Karena ia menghadapi semuanya dengan pola pandang, tata nilai, dan norma-norma yang bersumber dari Allah secara langsung. Kare na itu, apa yang dari Allah inilah yang lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih patut diikuti dan dihormati.

Amal Saleh

Amal saleh merupakan buah alami bagi iman, dan gerakan yang didorong oleh adanya hakikat iman yang mantap di dalam hati. Jadi, iman merupakan hakikat yang aktif dan dinamis, yang apabila sudah mantap di dalam hati maka ia akan berusaha merealisasikan diri di luar dalam bentuk amal saleh…. Inilah iman Islami, yang tidak mungkin stagnan (mandeg) tanpa bergerak, tidak mungkin hanya bersembunyi tanpa menampakkan diri dalam bentuk yang hidup di luar diri orang yang beriman. Apabila ia tidak bergerak dengan gerakan yang otomatis ini, maka iman itu palsu atau telah mati. Keadaannya seperti bunga yang tidak dapat menahan bau harumnya. Ia menjadi sumber otomatis. Kalau tidak, berarti ia tidak ada wujudnya.

Dari sinilah tampak nilai iman… bahwa ia adalah harakah ‘gerakan’, amal, pembangunan, dan pemakmuran yang menuju kepada Allah. Iman bukan sekadar lintasan, dan bukan sesuatu yang pasif yang tersimpan di dalam hati. Dan ia juga bukan sekadar niat-niat baik yang tidak terwujud dalam gerakan nyata. Dan ini adalah karakter Islam yang menonjol yang menjadi kekuatan pembangunan yang sangat besar di dalam kehidupan.

Inilah pengertiannya, selama iman itu sebagai ikatan dengan manhaj Rabbani. Dan manhaj ini adalah gerakan yang konstan dan berkesinambungan di dalam wujud semesta, yang bersumber dari suatu perencanaan dan menuju kepada tujuan. Sedang panduan iman kepada manusia merupakan panduan untuk merealisasikan gerakan yang merupakan karakter semesta, yaitu gerakan yang baik, bersih, konstruktif, yang sesuai dengan manhaj yang bersumber dari Allah.

Saling Menasihati untuk Menaati Kebenaran dan Bersabar

Saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran ini terlukis dalam keberadaan umat Islam –atau Jama’ah Muslimah– dengan bentuknya yang khas, ikatannya yang istimewa, dan arahnya yang sama. Jama’ah yang merasakan keberadaannya sebagaimana mereka merasakan kewajibannya, mengerti hakikat sesuatu yang harus diutamakan, yang bersumber dari iman dan amal saleh, yang meliputi masalah kepemimpinan manusia di jalan iman dan amal saleh, lantas saling menasihati dengan nasihat yang dapat membangkitkan semangatnya untuk mengemban amanat terbesar ini.

Dari celah-celah lafal tawaashi ‘saling menasihati’ dengan maknanya, tabiatnya, dan hakikatnya, tampaklah potret umat—atau jama’ah—yang kompak dan saling bertanggung jawab. Umat pilihan, umat yang baik, umat yang penuh pengertian, umat yang bermutu di muka bumi dengan berpegang pada dan menegakkan kebenaran, keadilan, dan kebaikan…. Ini merupakan gambaran paling tinggi dan paling indah bagi umat pilihan…. Demikianlah yang dikehendaki Ilam terhadap umat Islam, ia menghendaki umat Islam sebagai umat terbaik, kuat, penuh pengertian, tanggap, sensitif trhadap kebenaran dan kebaikan, dan saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran, yang dilakukan dengan penuh kasih sayang, penuh solidaritas, tolong-menolong, dan penuh rasa persaudaraan, yang selalu disiram dengan kata “tawaashi” dalam Al-Qur`an.

Kepemimpinan Kaum Muslimin

Nah sekarang, kita lihat dari celah-celah dustur (aturan pokok) yang dilukiskan oleh Al-Qur`an bagi kehidupan golongan yang beruntung dan selamat dari kerugian ini, maka kita akan terperanjat karena melihat kerugian (pandangan, sikap dan praktik hidup yang merugikan) sedang mengepung manusia di semua tempat di muka bumi ini tanpa kecuali. Kita merasa ngeri terhadap kesia-siaan hidup yang dialami manusia ini di dunia—sebelum di akhirat nanti. Kita meresa ngeri dengan melihat manusia sudah berpaling demikian jauh dari kebaikan yang dilimpahkan Allah kepada mereka, di samping telah hilangnya pemerintahan yang baik dan beriman yang menegakkan kebenaran di muka bumi ini…. Demikianlah, sedang kaum muslimin sendiri—atau orang-orang yang mengaku beragama Islam dengan pernyataan yang lembut—telah begitu jauh dari kebaikan ini, dan jauh berpaling dari manhaj yang dipilihkan Allah buat mereka, jauh berpaling dari dustur yang disyariatkan-Nya bagi umat mereka, dan jauh dari jalan satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka dari kerugian dan kesia-siaan. Dan, kawasan tempat munculnya kebaikan ini pertama kali telah meninggalkan bendera yang dipancangkan oleh Allah ini, yaitu bendera iman, karena bergantung pada bendera-bendera kesukuan dan kebangsaan yang dengan bernaung di bawah kibarannya tidak diperoleh lagi kebaikan di dalam sejarahnya secara total. Ia tidak lagi mendapat sebutan di bumi dan di langit, sehingga datang Islam dan mengibarkan buat mereka bendera yang dinisbatkan kepada Allah ini, yang tiada sekutu bagi-Nya, bendra yang diberi nama dengan nama Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, yang diberi tanda dengan tanda Allah yang tiada sekutu bagi-Nya…. Bendera yang di bawah kibarannya bangsa Arab mendapat kemenangan, memandu dan memimpin kemanusiaan dengan kepemimpinan yang baik, kokoh, tangkas, dan membawa keselamata n untuk pertama kali dalam sejarah mereka dan sejarah kemanusiaan yang panjang ….

Ustadz Abul Hasan an-Nadawi berkata, “Kaum muslimin telah lahir, dan memimpin dunia, dan melepaskan bangsa-bangsa yang tertipu dari kepemimpinan manusia yang mengeskploitasinya dan bertindak buruk terhadapnya, dan mereka memandu manusia untuk menempuh jalan kehidupan dengan cepat, seimbang, dan adil.

Banyak sekali sifat yang mereka miliki yang menjadikan mereka layak memimpin bangsa-bangsa ini, dan dapat menjamin kebahagiaan dan keberuntungan mereka di bawah naungannya dan di bawah kepemimpinannya ….

Pertama, mereka memiliki kitab dan syari’at yang diturunkan dari Tuhan. Maka mereka tidak membuat undang-undang dan syari’at berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka, karena nafsu itu merupakan sumber kejahilan, kekeliruan, dan kezaliman. Kedua, mereka tidak mengendalikan pemerintahan dan kepemimpinan tanpa pendidikan akhlak dan membersihkan jiwanya. Ketiga, mereka bukan pelayan suku tertentu dan bukan utusan bangsa atau negeri tertentu, yang mengusahakan kemakmuran dan memenuhi kepentingannya saja, dan bukan hanya untuk mengamankan kelebihan dan keunggulannya atas bangsa-bangsa dan negara-negara lain. Mereka hanya ditugaskan untuk membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah saja. Keempat, tidak akan dijumpai peradaban yang baik dan saleh kecuali bila dibimbing oleh keseimbangan beragama, moral, pikiran dengan fisik, yang dengannya manusia dapat dengan mudah mencapai kesempurnaan kemanusiaannya.

* * *
Inilah sebagian dari masa-masa bahagia yang dialami manusia di bawah naungan dustur Islami yang fondasinya telah dipasang oleh surah al-Ashr, di bawah bendera keimanan yang dikibarkan oleh jama’ah yang beriman, beramal saleh, saling menasihat untuk mentaati kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.

Nah, ke manakah hilangnya semua itu sebagaimana yang dialami manusia sekarang di semua tempat? Mereka mengalami kerugian dalam peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Mereka buta dari kebaikan besar yang dulu dibawa oleh bangsa Arab untuk semua manusia ketika mereka mengarak panji-panji Islam dan hidup di bawah kepemimpinannya. Kemudian bendera itu diturunkan, dan tiba-tiba saja ia berada di belakang kafilah, dan kafilah itu berjalan menuju kepada kehampaan dan kerugian. Dan sesudah itu, semua bendera dan panji-panji menjadi milik syetan, tidak ada satu pun bendera untuk Allah. Semuanya untuk kebatilan, tidak ada satu pun bendera kebenaran. Semuanya untuk kebutaan dan kesesatan, tidak ada satu pun bendera petunjuk dan cahaya. Semuanya untuk kerugian, dan tidak ada satu pun bendera untuk keberuntungan. Sebenarnya, bendera dan panji-panj i Allah senantiasa ada, ia menantikan tangan yang dapat mengangkat dan mengibarkannya, dan menantikan umat yang mau berjalan di bawah kibarannya menuju kepada kebaikan, petunjuk, kesalehan, dan kebahagiaan.



Dikutip dari buku: Tafsir Fi Zhilalil Qur’an
Karya : Sayyid Quthb
Edisi Super Luks jilid 9
Harga ; Rp. 84,900
Diterbitkan oleh : Gema Insani

...

Qalbu Mengeras Karena Jauh Dari Allah


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya) :
“Maka celakalah bagi mereka yang keras qalbunya dari berdzikir kepada Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (Az-Zumar:
22)

Tidaklah Allah memberikan hukuman yang lebih besar kepada seorang hamba selain dari kerasnya qalbu dan jauhnya dari Allah subhanahu
wa ta’ala. An-Naar (neraka) adalah diciptakan untuk melunakkan qalbu yang keras. Qalbu yang paling jauh dari Allah adalah qalbu yang
keras, dan jika qalbu sudah keras mata pun terasa gersang. Qalbu yang keras ditimbulkan oleh empat hal yang dilakukan melebihi
kebutuhan: makan, tidur, bicara, dan pergaulan.

Sebagaimana jasmani jika dalam keadaan sakit tidak akan bermanfaat baginya makanan dan minuman, demikian pula qalbu jika terjangkiti
penyakit-penyakit hawa nafsu dan keinginan-keinginan jiwa, maka tidak akan mempan padanya nasehat.

Barangsiapa hendak mensucikan qalbunya maka ia harus mengutamakan Allah dibanding keinginan dan nafsu jiwanya.

Karena qalbu yang tergantung dengan hawa nafsu akan tertutup dari Allah subhanahu wa ta’ala, sekadar tergantungnya jiwa dengan hawa
nafsunya.

Banyak orang menyibukkan qalbu dengan gemerlapnya dunia. Seandainya mereka sibukkan dengan mengingat Allah subhanahu wa ta’ala dan
negeri akhirat tentu qalbunya akan berkelana mengarungi makna-makna Kalamullah dan ayat-ayat-Nya yang nampak ini, dan ia pun akan
menuai hikmah-hikmah yang langka dan faedah-faedah yang indah. Jika qalbu disuapi dengan berdzikir dan disirami dengan berfikir
serta dibersihkan dari kerusakan, ia pasti akan melihat keajaiban dan diilhami hikmah.

Tidak setiap orang yang berhias dengan ilmu dan hikmah serta memeganginya akan masuk dalam golongannya. Kecuali jika mereka
menghidupkan qalbu dan mematikan hawa nafsunya.

Adapun mereka yang membunuh qalbunya dengan menghidupkan hawa nafsunya, maka tak akan muncul hikmah dari lisannya.

Rapuhnya qalbu adalah karena lalai dan merasa aman, sedang makmurnya qalbu karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan
dzikir. Maka jika sebuah qalbu merasa zuhud dari hidangan-hidangan dunia, dia akan duduk menghadap hidangan-hidangan akhirat.
Sebaliknya jika ia ridha dengan hidangan-hidangan dunia, ia akan terlewatkan dari hidangan akhirat.

Kerinduan bertemu Allah subhanahu wa ta’ala adalah angin semilir yang menerpa qalbu, membuatnya sejuk dengan menjauhi gemerlapnya
dunia. Siapapun yang menempatkan qalbunya disisi Rabb-nya, ia akan merasa tenang dan tentram. Dan siapapun yang melepaskan qalbunya
di antara manusia, ia akan semakin gundah gulana.

Ingatlah! Kecintaan terhadap Allah tidaklah akan masuk ke dalam qalbu yang mencintai dunia kecuali seperti masuknya unta ke lubang
jarum (sesuatu yang sangat mustahil).

Jika Allah subhanahu wa ta’ala cinta kepada seorang hamba, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memilih dia untuk diri-Nya sebagai
tempat pemberian nikmat-nikmat-Nya, dan Ia akan memilihnya di antara hamba-hamba-Nya, sehingga hamba itu pun akan menyibukkan
harapannya hanya kepada Allah. Lisannya senantiasa basah dengan berdzikir kepada-Nya, anggota badannya selalu dipakai untuk
berkhidmat kepada-Nya.

Qalbu bisa sakit sebagaimana sakitnya jasmani, dan kesembuhannya adalah dengan bertaubat. Qalbu pun bisa berkarat sebagaimana
cermin, dan cemerlangnya adalah dengan berdzikir. Qalbu bisa pula telanjang sebagaimana badan, dan pakaian keindahannya adalah
taqwa. Qalbu pun bisa lapar dan dahaga sebagaimana badan, maka makanan dan minumannya adalah mengenal Allah subhanahu wa ta’ala,
cinta, tawakkal, bertaubat dan berkhidmat untuk-Nya.

(diterjemahkan dan diringkas dari kitab Al-Fawaid karya Ibnul Qayyim rahimahullah hal 111-112)

Tuesday, July 12, 2005

keutamaan berdoa

1.Do'a adalah ibadah berdasarkan firman Allah :
"Artinya : Berdo'alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Kuakan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (Ghafir : 60).

Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Syaikh Taqiyuddin Subki berkata :
Yang dimaksud doa dalam ayat di atas adalah doa yang bersifat permohonan, dandayat berikutnya 'an 'ibaadatiy menunjukkan bahwa berdoa lebih khusus daripada beribadah, artinya barangsiapa sombong tidak mau beribadah, maka pasti sombongtidak mau berdoa.
Dengan demikian ancaman ditujukan kepada orang yang meninggalkan doakarena sombong
dan barangsiapa melakukan perbuatan itu, maka dia telah kafir.Adapun orang yang tidak berdoa karena sesuatu alasan, maka tidak terkena ancaman tersebut. Walaupun demikian memperbanyak doa tetap lebih baik daripadameninggalkannya sebab dalil-dalil yang menganjurkan berdoa cukup banyak. (Fathul Bari11/98).

Dari Nu'man bin Basyir bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Artinya : Doa adalah ibadah", kemudian beliau membaca ayat :
"Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu".(Ghafir : 60).

Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Imam At-Thaibi berkata :
Sebaiknya hadits Nu'man di atas difahami secara arti bahasa, artinya berdoa adalah memperlihatkan sikap berserah diri danmembutuhkan Allah, karena tidak dianjurkan ibadah melainkan untuk berserah diri dantunduk kepada Penciptaserta merasa butuh kepada Allah. Oleh karena itu Allah mengakhiri ayat tersebut dengan firman-Nya :
"Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu".Dalam ayat ini orang yang tidak mau tunduk dan berserah diri kepadaAllah disebut orang-orang yang sombong,
sehingga berdoa mempunyai keutamaan di dalam ibadah, dan ancaman bagi mereka yang tidak mau berdoa adalah hina dina.(Fathul Bari 11/98).

Catatan :
Hadits yang berbunyi :
"Artinya : Doa adalah inti ibadah" (Hadits Dhaif) (DidhaifkanAl-Albani, Ta'liq 'ala Misykatul Masabiih 2/693 No. 2231)

2.Doa adalah ibadah yang paling mulia di sisi Allah, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata bahwasanya Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Artinya : Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah daripadadoa".
(Sunan At-Timidzi, bab Do'a 12/263, Sunan Ibnu Majah, bab Do'a 2/341
No. 3874. Musnad Ahmad 2/362).

Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa makna hadits tersebut adalah tidak ada sesuatu ibadah qauliyah (ucapan) yang lebih mulia di sisiAllah daripada doa,sebab membandingkan sesuatu harus sesuai dengan substansinya. Sehingga pendapat yang mengatakan bahwa shalat adalah ibadah badaniyahyang paling utama sehingga hal ini tidak bertentangan dengan firman Allah."Artinya : Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisiAllah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu".(Al-Hujurat : 13).

3.Allah murka terhadap orang-orang yang meninggalkan doa, berdasarkan hadits bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allahakan memurkainya". (Sunan At-Tirmidzi, bab Do'a 12/267-268).

Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Imam At-Thaibi berkata : "Makna hadits di atas yaitu barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan murka begitu pula sebaliknya Dia sangat senang apabiladiminta hamba-Nya". (Fathul Bari 11/98).

Imam Al-Mubarak Furi berkata bahwa orang yang meninggalkan doa berartisombong dan merasa tidak membutuhkan Allah.Imam At-Thaibi berkata bahwa Allah sangat senang tatkala dimintai
karunia-Nya,maka barangsiapa yang tidak memohon kepada Allah, maka berhak mendapat
murka-Nya.

Dari hadits di atas menunjukkan bahwa permohonan hamba kepada Allahmerupakan kewajiban yang paling agung dan paling utama, karena menghindar dari murka Allah adalah suatu yang menjadi
keharusan. (Mura'atul Mashabih 7/358)

4.Doa mampu menolak takdir Allah, berdasarkan hadits dari SalmanAl-Farisi Radhiyallahu 'anhu
bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ""Artinya : Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa". (SunanAt-Tirmidzi, bab Qadar 8/305-306)

Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa yang dimaksud adalah, takdir yang tergantung pada doa dan berdoa bisa menjadi sebabtertolaknya takdir karena takdir tidak bertolak belakang dengan masalah sebab akibat,boleh jadi terjadinya sesuatu menjadi penyebab terjadi atau tidaknyasesuatu yang lain termasuk takdir.Suatu contoh berdoa agar terhindar dari musibah, keduanya adalahtakdir Allah.
Boleh jadi seseorang ditakdirkan tidak berdoa sehingga terkena musibah dan seandainya dia berdoa, mungkin tidak terkena musibah, sehingga doa ibarat tameng dan musibah laksana panah. (Mura'atul
Mafatih 7/354-355).

Syaikh Utsaimin ditanya : "Kita sering mendengar orang berdoa :
Ya Allah kami tidak memohon agar takdir kami dirubah akan tetapi kami meminta kelembutan dalam takdir tersebut. Apakah doa tersebut dibolehkan .?"

Jawab :
Berdoa seperti itu dilarang dan haram sebab doa bisa merubah takdir seperti yang telah disebutkan dalam hadits di atas. Bahkan orang yang berdoa seperti itu menantang Allah dan seakanmengatakan :
"Ya Allah takdirkanlah kepadaku apa saja yang Engkau kehendaki tetapiberilah kelembutan dalam takdir tersebut".

Seharusnya orang yang berdoa berketetapan hati dalam doanya, seperti berdoa : Ya Allah kami memohon rahmat-Mu dan kami berlindungdari siksaan-Mu,dan doa semisalnya. Apabila seorang berdoa kepada Allah agar tidak dirubah takdirnya,maka apa manfaatnya sementara doa bisa merubah takdir, dan bisa jadi takdir tersebut hanya bisa berubah lantara doa. Yang penting doa tersebut di atas tidak boleh dan hendaknya dihindarkan serta barangsiapa yang mendengar doa seperti
itu sebaiknya menasehatinya. (Liqa' Babul Maftuh 5/45-46)

5.Orang yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu berdoaberdasarkan hadits Nabi bahwasanya beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Artinya : Orang yang lemah adalah orang yang meninggalkan berdoa danorang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil terhadap salam". (Al-Haitsami, kitab Majma' Az-Zawaid. Thabrani, l-Ausath. Al-Mundziri,kitab At-Targhib berkata : Sanadnya Jayyid (bagus) dan dishahihkanAl-Albani,As-Silsilah Ash-Shahihah 2/152-153 No. 601).

Imam Manawi berkata bahwa yang dimaksud dengan 'Ajazu an-naasi adalahorang yang paling lemah akalnya dan paling buta penglihatan hatinya, dan yang dimaksud dengan Min 'ajzin 'an ad-dua'i adalah lemah memohonkepada Allah terlebih pada saat kesusahan dan demikian itu bisa mendatangkan murka Allah karena dia meninggalkanperintah-Nya padahal berdoa adalah perkerjaan yang sangatringan.(Faidhul Qadir 1/556).

Ahli syair berkata :
Janganlah kamu meminta kepada manusia, memintalah kepada Dzat yangpintu-Nya tidak pernah tertutup.Allah akan murka jika engkau tidak meminta-Nya,sementara manusia marahjika sering diminta.

Syair di atas menjadi bantahan terhadap anggapan bahwa yang lebih baiktidak berdoa.

6.Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan berdoa, barangsiapa yangmeninggalkan doa berarti menentang perintah Allah dan barangsiapa yang melaksanakan berarti telah memenuhi perintah-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman."Artinya : Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku,maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku,danhendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam
kebenaran". (Al-Baqarah : 186).

Syaikh Sa'di mengatakan bahwa ayat di atas sebagai jawaban ataspertanyaan para sahabat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallammereka bertanya :
Wahai Rasulullah, apakah Allah dekat sehingga kami memohon denganberbisik-bisik ataukah Dia jauh sehingga kami memanggil-Nya denganberteriak ? Maka turunlah ayat Allah. Tafsir At-Thabari dan didhaifkan oleh ImamAhmad 3/481)."Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat".

Karena Allah adalah Dzat Yang Maha Melihat, Maha Mengetahui dan MahaMenyaksikan terhadap sesuatu yang tersembunyi, rahasia dan mengetahui perubahan pandangan mata serta isi hati.
Allah juga dekat dengan hamba-Nya yang meminta dan selalu sanggupmengabulkan permintaan.
Maka Allah berfirman : "Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoaapabila ia memohon kepada-Ku".
Doa adalah dua macam yaitu doa ibadah dan doa permohonan. Kedekatan Allah dengan hamba-Nya terbagi dua macam yaitu ;
kedekatan ilmu-Nya dengan setiap mahluk-Nya dan kedekatan denganhamba-Nya dalam memberikan setiap permohonan, pertolongan dan taufikkepada mereka.Barangsiapa yang berdoa kepada Allah dengan hati yang khusyu' danberdoa sesuai dengan aturan syariat serta tidak ada penghalang diterima doa tersebut seperti makan makananyang haram atau semisalnya, maka Allah berjanji akan mengabulkan permohonan tersebut. Apalagi bila disertai hal-hal yang menyebabkan terkabulnya doa sepertimemenuhi perintah Allah, meninggalkan larangan-Nya baik secara ucapan maupun perbuatan danyakin bahwa doa tersebut akan dikabulkan. Maka Allah berfirman : "Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segalaperintah)Ku dan hedaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu
berada dalam kebenaran".

Artinya orang yang berdoa akan berada dalam kebenaran yaitu
mendapatkan hidayah untuk beriman dan berbuat amal shalih serta terhindar dari kejahatan dan kekejian.(Tafsir As-Sa'di 1/224-225).

7.Imam Zarkasi berkata bahwa konsentrasi dalam berdoa sertamenunjukkan sikap rendah, tunduk,penghambaan dan merasa membutuhkan Allah adalah merupakan ibadah yang paling agung
bahkan demikian itu menjadi syarat sahnya ibadah.Allah berjanji akan memberikan pahala orang yang berdoa, meskipuntidak dikabulkan doanya.

8.Berdoa adalah menyibukkan diri untuk mengingat Allah sehingga timbul
dalam hati rasa pengagungan terhadap kebesaran Allah dan ingin kembali kepada-Nya berhenti dari maksiat. Sering mengetuk pintu mempunyai kesempatan besar untuk masuk, sehingga ada pepatah bahwa barangsiapa yang sering mengetuk pintu,maka suatu saat akan diberi izin masuk sehingga dikatakan :
"Diberi kesempatan berdoa lebih baik daripada diberi sesuatu".

9.Banyak berdoa bisa menghindarkan bencana dan musibah,
sebagaimana firman Allah yang mengkisahkan tentang Nabi Ibrahim'Alaihis Salam :
"Artinya : Dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku". (Maryam :48)Dan firman Allah tentang Nabi Zakaria 'Alaihis Salam.
"Artinya : Ia berkata :'Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku".((Maryam : 4) Al-Azhiyah fi Ahkamil Ad'iyah hal. 38-42).

10.Sebagian orang hanya berdoa sekali atau dua kali dan setelah merasa tidak dikabulkan, lalu berhenti berdoa. Jelas tindakan seperti itu adalah tindakan yang keliru bahkan dia harus terus menerus mengulangi doanya hingga Allah mengabulkannya.

Dari Abu Haurairah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Do'a seorang hamba akan selalu dikabulkan selagi tidak memohon sesuatu yang berdosa atau pemutusan kerabat, atau tidak tergesa-gesa. Mereka bertanya : Apa yang dimaksud tergesa-gesa ?Beliau menjawab : " Dia berkata ; Saya berdoa berkali-kali tidak dikabulkan, lalu dia merasa menyesal kemudian meninggalkan doa".Shahih Muslim, kitab Dzikir wa Do'a 4/87).
Menurut Imam An-Nawawi yang dimaksud menyesal adalah meninggalkan doa.
(Syarh Shahih Muslim 17/52).
Maka seharusnya seorang hamba harus terus berdoa dan tidak boleh bosan serta merasa tidak dikabulkan doanya. Dalam ucapan : "Saya berdoa berkali-kali tetapi tidak dikabulkan".

Syaikh Al-Mubarak Furi mengatakan bahwa Syaikh Al-Qari berkata :
"Yang dimaksud dengan kalimat tersebut adalah tidak melihat hasil doa saya. Terkadang merasa doanya lambat dikabulkan atau putus asa dari berdoa dan keduanya tercela. Perlu diketahui, ada waktu tertentu untuk terkabulnya doa, sebagaimana yang diriwayatkan bahwa doa Musa dan Harun agar Fir'aundihancurkan oleh Allahbaru terkabul setelah empat puluh tahun. Adapun berputus asa dari rahmat Allah tidak akan terjadi kecuali atasorang-orang kafir". (Mura'atul Mafatih 7/348).

Imam Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa di dalam hadits di atas terdapatetika berdoa
yaitu terus mengajukan permohonan dan tidak berputus asa dalam berdoa sebab demikian itu merupakan bagian dari sikap ketundukan danpenyerahan diri kepada Allah serta merasa membutuhkan Allah, oleh karena itu sebagian ulama salaf berkata : "Kami lebih takut dihalangi untuk berdoa daripada dihalangiterkabulnya doa".

Imam Ad-Dawudi berkata : "Dikhawatirkan orang yang mengatakan bahwadia selalu berdoa tetapi tidak dikabulkan maka doanya benar-benar tidak dikabulkan,atau benar-benar tidak dikabulkan penangguhan siksa akhirat ataupengampunan dosa-dosanya".

Imam Ibnul Jauzi berkata : Ketahuilah bahwa doa orang mukmin tidakmungkin ditolak,
boleh jadi ditunda pengkabulannya lebih baik atau digantikan sesuatu yang lebih maslahat dari pada yang diminta baik di dunia atau di akhirat. Sebaiknya seorang hamba tidak meninggalkan berdoa kepada Rabbnya sebab doa adalah ibadah yaitu ibadah penyerahan dan ketundukan kepada
Allah". (Fathul Bari 7/348)

Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha bahwa beliau berkata :
"Tatkala Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terkena sihir orangYahudi bernama Lubaid bin A'sham, beliau berkata sehingga seakan-akan Rasulullah melakukan sesuatupadahal tidak melakukannya hingga pada suatu malam Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallamberdoa kemudian berdoa dan terus berdoa". (Shahih Muslim, kitab Salambab Sihir 7/14)

Imam An-Nawawi berkata bahwa hadits di atas menekankan kepada setiaphamba tatkala tertimpa bencana atau musibah untuk memperbanyak doa dan terus berserah diri kepadaAllah. (Syarh Shahih Muslim 7/14).

Dari Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu 'anhu berkata bahwa tatkala sayamulai bertempur saat perang Badr saya kembali dengan cepat untuk melihat apa yang dikerjakan RasulullahShallallahu 'alaihi wa sallam, ternyata beliau sedang bersujud dan membaca :
Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Kekal, Wahai Dzat Yang Maha Hidupdan Maha Kekal,
kemudian saya kembali bertempur, lalu saya kembali lagi ke tempatRasulullah, saya temui beliau dalam keadaan sujud, kemudian saya kembali bertempurlalu saya kembali ke tempat beliau
dan saya temui masih membaca doa tersebut sehingga Allah memberikankemenangan".
(Sunan At-Tirmidzi, bab Doa 13/78. Dishahihkan Ibnu Hajar dalam FathulBari 11/98)

Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu 'anhu bahwasanya RasulullahShallallahu'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Tidak ada seorang muslim berdoa kepada Allah di duniadengan suatu permohonan kecuali Allah akan mengabulkannya atau menghilangkan daripadanya keburukan yang semisalnya, selagi tidak berdoa sesuatu dosa atau pemutusan kerabat. Ada seorang laki-laki dari suatu kaum berkata : Jikalau begitu sayaakan memperbanyak (doa). Beliau bersabda : '"Allah mengabulkan doa lebih banyak daripada yang kalian minta". (Sunan At-Tirmidzi, bab Doa 13/78. Dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalamFathul bari 11/98).

11.Hadits yang berbunyi.
"Artinya : Allah mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalamberdoa". (Hadits Dhaif, Al-Albani berkata dalam Silsilah Dhaifah bahwa haditsini bathil 2/96-97).
Allahu`alam bish showab


Disalin dari buku Jahalatun nas fid du'a, edisi Indonesia KesalahanDalam Berdoa, hal 43-47,
terbitan Darul Haq, penerjemah Zaenal Abidin Lc.